Poltek SSN Gelar Health Talk Mengenal Apendisitis
Menjaga kesehatan merupakan investasi utama dalam mendukung produktivitas kerja dan kelancaran pendidikan. Menyadari hal tersebut, Poltek SSN menggelar kegiatan sosialisasi kesehatan atau Health Talk bertajuk Mengenal Tanda dan Gejala Apendisitis (Usus Buntu) pada hari Jumat, 6 Februari 2026.
Acara yang berlangsung di lingkungan kampus Poltek SSN ini menghadirkan narasumber ahli dari Tim Dokter RS PENA 98. Sosialisasi ini diikuti dengan antusias oleh para Pegawai serta Taruna/i Poltek SSN yang ingin memperdalam wawasan mengenai gangguan pencernaan yang sering kali dianggap sepele namun berisiko fatal jika terlambat ditangani.
Dalam paparannya, Dr. Johanes Berechmans, Sp.B menjelaskan bahwa apendisitis atau radang usus buntu adalah kondisi darurat medis yang memerlukan tindakan cepat. Banyak orang sering keliru membedakan antara sakit perut biasa (maag atau masuk angin) dengan gejala usus buntu.
“Kunci utama penanganan usus buntu adalah deteksi dini. Semakin cepat dikenali, semakin kecil risiko terjadinya perforasi atau pecahnya usus buntu yang bisa membahayakan nyawa, ujar,” Dr. Johanes Berechmans, Sp.B.
Beberapa poin krusial yang dibahas dalam kegiatan Health Talk hari ini meliputi :
• Gejala Khas, Nyeri yang bermula di sekitar pusar kemudian berpindah ke perut kanan bawah.
• Tanda Penyerta, Demam ringan, mual, muntah, serta hilangnya nafsu makan. • Metode Pemeriksaan, Cara melakukan tes mandiri sederhana (seperti nyeri tekan) sebelum melakukan pemeriksaan medis lebih lanjut melalui USG atau cek laboratorium.
• Mitos vs Fakta, Penjelasan bahwa biji-bijian (seperti biji cabai atau jambu) bukanlah penyebab langsung, melainkan penyumbatan pada lumen apendiks.
Interaksi hangat terlihat saat sesi tanya jawab. Para Taruna aktif bertanya mengenai pengaruh pola makan instan terhadap risiko usus buntu, sementara para pegawai lebih banyak berkonsultasi mengenai langkah pertolongan pertama jika gejala muncul di malam hari.

Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan seluruh sivitas akademika Poltek SSN lebih mawas diri terhadap kesehatan tubuh dan tidak menunda untuk melakukan pemeriksaan ke Poliklinik atau fasilitas kesehatan terdekat jika merasakan gejala-gejala yang mencurigakan.
Taruna Poltek SSN Belajar dan Mengabdi Bersama Masyarakat Aceh Tamiang dalam Latsitardanus 2026
Kabupaten Aceh Tamiang menjadi ruang belajar yang berharga bagi taruna Politeknik Siber dan Sandi Negara (Poltek SSN) yang mengikuti kegiatan Latihan Integrasi Taruna Wreda Nusantara (Latsitardanus) ke-46 Tahun 2026. Tidak hanya berlatih kedisiplinan dan kepemimpinan, para taruna juga merasakan langsung makna kebersamaan dan pengabdian di tengah masyarakat.

Keikutsertaan taruna Poltek SSN dalam Latsitardanus 2026 merupakan bentuk komitmen dalam mendukung pembangunan nasional serta memperkuat jiwa kebangsaan, kedisiplinan, dan kepemimpinan. Pada kegiatan peninjauan Pimpinan institusi pendidikan yang tergabung dalam Latsitardanus 2026 di Kabupaten Aceh Tamiang pada tanggal 26-29 Januari 2026, turut dihadiri oleh Komandan Jenderal (Danjen) Akademi TNI, Rektor Unhan RI, Gubernur Akademi Angkatan dan Akademi Kepolisian, Direktur Pendidikan Akademi TNI, Kepala Biro Umum Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Kepala Bagian Administrasi Akademik, Kemahasiswaan dan Kerja Sama Poltek SSN, serta para pejabat TNI dan Polri wilayah Aceh Tamiang. Kegiatan ini merupakan wujud dukungan dan sinergi terhadap pelaksanaan Latsitardanus ke-46.


Bertempat di Yonif 111/Karma Bhakti, Kabupaten Aceh Tamiang, Danjen Akademi TNI, Letjen TNI Sidharta Wisnu Graha memberikan pengarahan kepada taruna dan kadet yang tergabung dalam Satgastar Latsitardanus ke-46. Dalam arahannya, Danjen Akademi TNI menegaskan bahwa kehadiran taruna dan kadet di Aceh Tamiang adalah untuk berbakti kepada bangsa dan negara dengan dilandasari niat tulus ikhlas dalam menolong masyarakat pasca bencana. “Niatmu kesini adalah melakukan kebaikan. Anda harus bisa menolong dan membantu mereka. Walaupun itu sedikit yang kita berikan kepada mereka, tapi itu menjadi kebahagiaan buat sebagian orang yang sudah kau bantu,” ujar Sidharta.


Pada rangkaian kegiatan peninjauan pelaksanaan kegiatan Latsitardanus ke-46 di Kab. Aceh Tamiang, turut hadir pula Wakil Panglima TNI didampingi Wakil Kepala Staf Angkatan dan Asisten Perencanaan Umum TNI. Kegiatan diawali dengan peninjauan lokasi akomodasi Satgastar Latsitardanus ke-46 di kompleks Yonif 111/KB. Peninjauan berlangsung dalam suasana hangat dan interaktif. Wapang TNI berdialog langsung dengan perwakilan taruna dan kadet yang melaksanakan tugas jaga serambi. Wapang TNI memberikan perhatian khusus terhadap kesiapan personil dalam menjalankan tugas pengabdian kepada masyarakat dan berinteraksi langsung dengan perwakilan kadet Unhan RI dan Poltek SSN untuk menggali informasi bidang studi dan kompetensi yang ditekuni. Rangkaian peninjauan akomodasi diakhiri dengan pengecekan fasilitas pendukung lainnya guna memastikan seluruh sarana pendukung Latasitardanus berada dalam kondisi layak dan aman dalam mendukung kelancaran pelaksanaan tugas.

Selanjutnya, kegiatan peninjauan dilanjutkan ke beberapa lokus sasaran kegiatan pembersihan yang meliputi fasilitas umum, fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, dan meninjau sarana teknologi penyaringan air bersih milik Unhan RI guna membantu memenuhi kebutuhan air bersih bagi masyarakat terdampak bencana. Beberapa lokus sasaran kegiatan peninjauan antara lain: SDN 1 Rantau Pauh, SDN 1 Tualang Cut, SMA 1 Mayak Payed, MTs Al Ikhlas, Kantor Desa Alur Manis, Polindes Sriwijaya, dan Puskesmas Mayak Payed.


Selain melakukan kegiatan pembersihan dan perbaikan sasaran fisik, para taruna juga melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat sasaran nonfisik, seperti: memberikan trauma healing dan dukungan psikososial bagi korban bencana, pengelolaan dapur umum dan memberikan edukasi gizi bagi masyarakat.

Melalui Latsitardanus 2026, taruna Poltek SSN ditempa untuk menjadi pribadi yang tangguh, rendah hati, dan peka terhadap lingkungan sekitar. Pengalaman hidup bersama masyarakat Aceh Tamiang diharapkan menjadi bekal berharga bagi para taruna dalam menjalankan tugas sebagai calon aparatur negara yang tidak hanya profesional, tetapi juga memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Kegiatan ini pun menjadi bukti bahwa kehadiran taruna di tengah masyarakat mampu memberikan manfaat nyata, sekaligus mempererat ikatan antara generasi muda calon pemimpin bangsa dengan rakyat yang akan mereka layani.
Sering Disalahpahami, Ini Arti Sebenarnya Hacker di Dunia Siber
Sobat Siber, kata hacker sering kali terdengar dramatis. Di media sosial, film, atau berita, istilah ini kerap muncul bersamaan dengan cerita kebocoran data, peretasan akun, atau gangguan layanan digital. Tidak heran jika kemudian muncul kesan bahwa hacker selalu identik dengan masalah.
Padahal, di balik istilah tersebut ada dunia pengetahuan yang cukup panjang. Sejak awal perkembangan komputer, istilah hacker digunakan untuk menyebut orang-orang yang gemar mengutak-atik sistem, mencoba memahami cara kerja teknologi, dan mencari solusi kreatif. Dari sini, makna hacker berkembang seiring waktu, mengikuti arah penggunaan teknologi itu sendiri.

Ilustrasi: Gemini – Google Image Generator
Memahami latar belakang ini membantu kita melihat bahwa istilah hacker tidak berdiri sendiri. Ia selalu berkaitan dengan konteks, tujuan, dan cara penggunaannya. Dari sinilah pembahasan tentang peran di dunia keamanan siber menjadi lebih relevan.
Hacker dan Defender dalam Ekosistem Digital
Sobat Siber, dunia digital ibarat sebuah ekosistem yang terus bergerak. Setiap sistem, aplikasi, dan layanan yang kita gunakan sehari-hari selalu menghadapi berbagai tantangan, mulai dari gangguan kecil hingga ancaman yang lebih serius. Dalam ekosistem ini, terdapat dua peran yang saling berinteraksi: pihak yang menguji batas sistem dan pihak yang memastikan sistem tetap aman.
Hacker adalah mereka yang memiliki kemampuan teknis untuk memahami bagaimana sebuah sistem bekerja, termasuk di mana letak kelemahannya. Pengetahuan ini memungkinkan mereka melihat sesuatu yang mungkin luput dari perhatian pengguna biasa. Di sisi lain, ada defender, yaitu pihak yang bertugas menjaga sistem agar kelemahan tersebut tidak menimbulkan masalah bagi pengguna.
Hubungan antara hacker dan defender bukan sekadar saling berhadapan. Keduanya membentuk dinamika yang mendorong perkembangan keamanan siber. Ketika sebuah celah ditemukan, sistem diperbaiki. Ketika sistem diperkuat, pendekatan pengujian pun ikut berkembang. Proses inilah yang membuat keamanan digital tidak pernah berhenti pada satu titik.
Bagi pembaca awam, penting untuk memahami bahwa keamanan siber bukan sekadar soal “menyerang dan bertahan”, tetapi tentang menjaga keandalan layanan digital yang digunakan bersama. Setiap peran memiliki kontribusi dalam memastikan ruang digital tetap berjalan dengan aman dan tepercaya.
Ragam Peran Hacker
Sobat Siber, dalam dunia keamanan siber, istilah hacker tidak berdiri sebagai satu peran tunggal. Berdasarkan tujuan dan cara penggunaannya, kemampuan teknis ini umumnya dipahami dalam tiga kategori yang cukup dikenal. Pembagian ini membantu masyarakat melihat bahwa dunia siber tidak sesederhana label “jahat” atau “baik”.
- White hat hacker dikenal sebagai hacker etis. Mereka menggunakan keahliannya secara sah dan dengan izin untuk menguji keamanan sistem. Peran ini sering dianalogikan seperti petugas inspeksi bangunan yang sengaja mencari retakan kecil agar dapat diperbaiki sebelum menimbulkan kerusakan besar. White hat justru dibutuhkan untuk meningkatkan ketahanan sistem digital.
- Black hat hacker menggunakan kemampuan teknisnya tanpa izin dan dengan tujuan yang merugikan. Aktivitasnya dapat berupa pencurian data, perusakan sistem, hingga penyebaran malware. Gambaran inilah yang paling sering muncul di pemberitaan dan membentuk persepsi negatif tentang hacker di masyarakat.
- Grey hat hacker berada di wilayah abu-abu. Mereka memiliki kemampuan yang sama, namun aktivitasnya tidak selalu dilakukan dengan izin yang jelas. Meskipun terkadang niatnya tidak merugikan, cara yang digunakan tetap menimbulkan persoalan etika dan hukum.Dengan memahami tiga peran ini, Sobat Siber dapat melihat bahwa hacker bukanlah satu identitas tunggal. Istilah ini mencakup spektrum peran yang luas, mulai dari yang berkontribusi pada keamanan hingga yang menimbulkan gangguan.
Pemahaman inilah yang menjadi dasar mengapa pendidikan keamanan siber, seperti yang dijalankan di Poltek SSN, menekankan etika, tanggung jawab, dan tujuan penggunaan keahlian.
Apa yang Dipelajari di POLTEK SSN?
Sobat Siber, di Poltek SSN, pembelajaran tidak diarahkan untuk mencetak pelaku peretasan ilegal. Fokus utama pendidikan adalah memahami sistem informasi dan ancaman siber agar dapat membangun perlindungan yang kuat.
Mahasiswa mempelajari bagaimana sebuah serangan dapat terjadi agar mampu mengenali pola dan risikonya sejak dini. Pendekatan ini mirip seperti seorang dokter yang mempelajari penyakit agar bisa menjaga kesehatan pasien. Pengetahuan tentang ancaman digunakan sebagai dasar untuk pencegahan dan penanganan, bukan sebagai tujuan akhir.
Selain aspek teknis, pembelajaran juga menekankan etika, kepatuhan terhadap hukum, dan tanggung jawab profesional. Dengan demikian, lulusan Poltek SSN dipersiapkan untuk mampu menjaga sistem, data, dan layanan digital yang digunakan masyarakat luas.
Dari Pemahaman Serangan ke Peran Defender
Sobat Siber, memahami cara kerja serangan bukan berarti mendorong terjadinya serangan. Justru dari pemahaman itulah lahir peran defender yang efektif. Defender bertugas memastikan sistem tetap aman, stabil, dan dapat dipercaya.
Ibarat petugas keamanan di sebuah gedung, mereka perlu mengetahui titik rawan, jalur masuk, dan potensi risiko agar dapat bertindak cepat saat diperlukan. Pengetahuan tentang ancaman menjadi bekal untuk membangun pertahanan berlapis dan respons yang tepat.
Langkah Sederhana agar Masyarakat Lebih Aman di Ruang Digital
Keamanan siber tidak hanya menjadi tanggung jawab para ahli. Masyarakat umum juga dapat berperan melalui kebiasaan digital yang baik. Menggunakan kata sandi yang kuat dan berbeda, berhati-hati terhadap pesan atau tautan mencurigakan, serta rutin memperbarui perangkat adalah langkah sederhana yang dapat mengurangi risiko gangguan siber.
Jika terjadi gangguan, langkah awal biasanya dimulai dengan mengamankan kembali akun yang terdampak, memeriksa aktivitas yang tidak wajar, dan melaporkan kejadian kepada pihak terkait. Penanganan yang cepat membantu membatasi dampak dan mencegah masalah yang lebih besar.
Penutup: Memahami Peran, Menjaga Kepercayaan
Sobat Siber, dunia keamanan siber bukan soal hitam dan putih. Istilah hacker memiliki makna yang beragam tergantung konteks dan tujuan penggunaannya. Di Poltek SSN, pemahaman tentang dunia siber diarahkan untuk menjaga, melindungi, dan memperkuat keamanan sistem informasi.
Lulusan Poltek SSN dipersiapkan sebagai defender yang berintegritas, profesional, dan bertanggung jawab. Dengan pemahaman yang lebih utuh dan literasi digital yang baik, ruang siber dapat menjadi lingkungan yang aman dan tepercaya bagi semua pihak..
Referensi
- Iskandar, HACKER VS DEFENDER Panduan Komprehensif dari Serangan hingga Pertahanan Siber. Bahan ajar keamanan siber (Hacker 10–14.pdf).
- Schneier, B. (2000). Secrets and Lies: Digital Security in a Networked World. John Wiley & Sons.
- Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). Publikasi dan Edukasi Keamanan Siber Nasional. https://www.bssn.go.id
- OWASP Foundation. Web Security Knowledge Base. https://owasp.org
Upacara Pembukaan dan Pemberangkatan Satgastar Latsitardanus XLVI Tahun 2026
Semarang — Wakil Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) A. Rachmad Wibowo dan Direktur Politeknik Siber dan Sandi Negara (Poltek SSN) Arnoldus Triono menghadiri Upacara Pembukaan dan Pemberangkatan Satuan Tugas Taruna (Satgastar) Latihan Integrasi Taruna Wreda Nusantara (Latsitardanus) XLVI Tahun 2026. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Dermaga Samudera II, Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Jumat (17/1/2026).
Upacara dipimpin oleh Komandan Jenderal Akademi TNI, Letnan Jenderal TNI Sidharta Wisnu Graha. Kegiatan ini menandai secara resmi dimulainya rangkaian Latsitardanus XLVI Tahun 2026 sebagai wahana pembinaan dan penguatan integrasi antartaruna serta calon aparatur negara. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala BAKK Poltek SSN, Gubernur Akademi Militer, serta para pejabat dan perwakilan instansi terkait.
Satgastar Latsitardanus XLVI Tahun 2026 terdiri atas taruna Politeknik Siber dan Sandi Negara (Poltek SSN), Akademi Militer (Akmil), Akademi Angkatan Laut (AAL), Akademi Angkatan Udara (AAU), Akademi Kepolisian (Akpol), serta Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI).
Keberangkatan peserta Latsitardanus ke-46 menuju Provinsi Aceh dilaksanakan menggunakan tiga Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) milik TNI Angkatan Laut, yaitu KRI Banda Aceh-593, KRI Dr. Radjiman Wedyodiningrat-992, dan KRI Teluk Calang-524. Para peserta yang diberangkatkan akan melengkapi kekuatan personel Satuan Tugas Taruna Latihan (Satgastar) yang telah lebih dahulu berada di wilayah tugas sejak 10 Januari 2026.
Pelaksanaan Latihan Integrasi Taruna Wreda Nusantara XLVI Tahun 2026 dipusatkan di Provinsi Aceh, tepatnya di Kabupaten Aceh Tamiang. Selain sebagai sarana pembinaan dan integrasi antartaruna, kegiatan ini juga diarahkan untuk mendukung percepatan pemulihan wilayah yang terdampak bencana banjir melalui berbagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan ini bertujuan membentuk jiwa kepemimpinan, memperkuat semangat kebangsaan, serta meningkatkan kepedulian sosial para taruna dan peserta didik melalui pengabdian langsung kepada masyarakat.
Melalui Latsitardanus, diharapkan para peserta mampu mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama pendidikan, sekaligus menumbuhkan sinergi lintas matra dan lembaga sebagai bekal pengabdian kepada bangsa dan negara di masa mendatang.
Kepala BSSN Hadiri Apel Gelar Pasukan dan Peralatan Latsitardanus XLVI Taruna Poltek SSN Tahun 2026
Bogor — Pada 15 Januari 2026, Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Republik Indonesia, Letjen TNI Drs. Nugroho Sulistyo Budi, M.M., bersama Wakil Kepala BSSN, Komjen Pol. A. Rachmad Wibowo, S.I.K., dan beberapa pejabat tinggi pratama BSSN, melaksanakan kunjungan kerja ke Politeknik Siber dan Sandi Negara (Poltek SSN) dalam rangka pemberian pengarahan kepada pegawai Poltek SSN dan menghadiri Apel Gelar Pasukan dan Peralatan Latsitardanus XLVI Taruna Poltek SSN Tahun 2026.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Kepala BSSN menerima paparan singkat dari Direktur Poltek SSN terkait persiapan Latsitarda XLVI, progres kerja sama KOICA, pembaruan revitalisasi jaringan Poltek SSN, serta pemeliharaan sarana dan prasarana kampus.
Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan pelaksanaan Apel Khusus yang diikuti seluruh pegawai dan taruna Poltek SSN. Dalam amanatnya, Kepala BSSN menegaskan bahwa memasuki tahun 2026, penting untuk menjaga keberlanjutan program kerja yang progresif dan terukur. Capaian program kerja tahun 2025, khususnya dalam konsolidasi internal dan kolaborasi dengan pihak eksternal, dinilai telah memberikan dampak signifikan bagi BSSN dan Poltek SSN. Kepala BSSN juga menyampaikan apresiasi atas dedikasi dan kerja keras seluruh sivitas Poltek SSN sehingga berbagai capaian kinerja tahun 2025 dapat terealisasi dengan baik.
Setelah pelaksanaan Apel Khusus, dilanjutkan dengan Apel Gelar Pasukan dan Peralatan Latsitarda XLVI yang dilaksanakan di Auditorium Soemarkidjo, Kampus Bumi Sanapati, Ciseeng, Bogor. Kepala BSSN didampingi Direktur Poltek SSN, beserta jajaran melakukan pengecekan terhadap kesiapan personel dan perlengkapan taruna yang akan megikuti kegiatan Latsitarda XLVI di Provinsi Aceh. Dalam sambutannya Kepala BSSN menekankan bahwa penugasan tersebut merupakan misi kemanusiaan di wilayah terdampak bencana, bukan sekadar formalitas akademik.
Latsitarda tahun ini difokuskan pada kegiatan fisik bakti sosial guna membantu pemulihan infrastruktur dan kondisi masyarakat pascabencana. Para taruna diharapkan melaksanakan seluruh rangkaian kegiatan Latsitarda dengan penuh semangat, disiplin, dan partisipasi aktif. Selain itu, Kepala BSSN juga menekankan pentingnya menjunjung tinggi integritas. Keikutsertaan Taruna Poltek SSN dalam Latsitardanus XLVI harus mencerminkan kecerdasan, kedisiplinan, dan karakter kuat berlandaskan etos sandi, serta menjaga nama baik almamater melalui sikap dan tindakan terbaik.
Skripsi Pakai AI? Boleh Nggak, Sih?
Sobat Siber, beberapa tahun lalu, menulis skripsi identik dengan tumpukan buku, begadang di perpustakaan, dan berjuang merangkai kalimat demi kalimat. Kini, situasinya berubah. Dengan beberapa perintah singkat, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) bisa membantu merangkum bacaan, menyarankan struktur tulisan, bahkan merapikan bahasa.
Kemudahan ini membuat banyak mahasiswa bertanya-tanya, “Kalau skripsi dibantu AI, sebenarnya boleh atau tidak?” Pertanyaan ini wajar, apalagi AI kini begitu dekat dengan kehidupan belajar. Bagi siswa dan orang tua, kebingungan serupa juga muncul: apakah teknologi ini membantu pendidikan, atau justru merusak proses belajar?
Kenapa Isu Ini Jadi Perbincangan?
Sobat Siber, pertanyaan soal penggunaan AI dalam skripsi tidak muncul begitu saja. Isu ini ramai karena AI hadir tepat di tengah tekanan akademik yang nyata. Mahasiswa dituntut menyelesaikan tugas tepat waktu, memahami teori yang kompleks, menulis dengan bahasa akademik yang rapi, sekaligus menjaga orisinalitas karya. Di situ, AI terlihat seperti solusi cepat yang “terlalu menggoda untuk dilewatkan”.
Banyak mahasiswa awalnya menggunakan AI dengan niat baik, misalnya untuk memahami bacaan yang sulit atau mencari gambaran awal struktur tulisan. Namun, tanpa disadari, penggunaan ini bisa berkembang semakin jauh. Dari sekadar membantu, AI mulai mengambil alih. Dari merapikan kalimat, berubah menjadi menyusun paragraf. Dari memberi contoh, beralih menjadi membuatkan isi.
Di sisi lain, orang tua dan siswa juga mulai ikut bertanya-tanya. Apakah penggunaan AI ini masih bagian dari proses belajar yang wajar, atau sudah mengarah pada ketergantungan teknologi? Kekhawatiran ini muncul bukan karena teknologi dianggap buruk, melainkan karena proses belajar dikhawatirkan kehilangan maknanya.
Inilah yang membuat isu penggunaan AI dalam skripsi menjadi perbincangan luas. Bukan soal teknologi semata, tetapi soal bagaimana pendidikan menjaga nilai kejujuran, proses berpikir, dan pembentukan karakter akademik di tengah kemajuan teknologi.
Pandangan Resmi Dunia Pendidikan tentang AI
Sobat Siber, penting untuk dipahami bahwa dunia pendidikan tidak bersikap menutup diri terhadap AI. Pemerintah melalui Kemdiktisaintek justru menyadari bahwa AI adalah bagian dari realitas pembelajaran masa kini dan masa depan. Karena itu, yang dilakukan bukanlah pelarangan total, melainkan penyusunan panduan penggunaan yang bertanggung jawab.

sumber: kemdiktisaintek.go.id
Dalam Buku Panduan Penggunaan Generative AI pada Pembelajaran di Perguruan Tinggi (2024), AI diposisikan sebagai alat bantu pembelajaran. Artinya, AI diakui memiliki potensi besar untuk mendukung proses belajar, meningkatkan efisiensi, dan membantu mahasiswa memahami materi yang kompleks. Namun, potensi tersebut harus berjalan seiring dengan nilai-nilai akademik yang sudah lama dijaga.
Panduan ini menekankan bahwa AI tidak boleh menggantikan peran manusia dalam berpikir, menganalisis, dan mengambil keputusan akademik. Proses intelektual tetap menjadi inti pembelajaran. AI hanya membantu di sisi teknis dan pendukung, bukan mengambil alih kendali utama.
Pendekatan ini menunjukkan sikap yang seimbang. Dunia pendidikan tidak anti-teknologi, tetapi juga tidak membiarkan teknologi berjalan tanpa arah. Dengan kata lain, AI boleh digunakan, selama penggunaannya memperkuat proses belajar, bukan memotongnya.
Bagi mahasiswa, panduan ini menjadi pegangan agar tidak salah langkah. Bagi orang tua dan siswa, panduan ini memberi kepastian bahwa penggunaan AI dalam pendidikan tetap berada dalam koridor etika dan tanggung jawab.
Memahami Batasan Penggunaan AI
Sobat Siber, kunci dari penggunaan AI dalam karya ilmiah bukan terletak pada boleh atau tidaknya, melainkan pada bagaimana AI digunakan. Di sinilah batasan menjadi sangat penting. Tanpa batasan yang jelas, AI yang awalnya membantu justru bisa mengaburkan peran.
Dalam praktik yang sehat, AI dapat digunakan untuk membantu memahami konsep yang terasa rumit. Ketika menemui istilah teknis atau teori yang sulit dipahami, AI bisa menjadi “teman diskusi awal” yang membantu membuka pemahaman. AI juga dapat dimanfaatkan untuk menyusun kerangka tulisan, agar ide-ide utama tersusun rapi sebelum dikembangkan lebih lanjut oleh mahasiswa.
Selain itu, AI sering digunakan untuk merapikan tata bahasa, ejaan, dan alur kalimat. Bagi banyak mahasiswa, bagian ini terasa menantang, terutama saat menulis dalam bahasa akademik. Selama substansi tulisan tetap berasal dari pemikiran penulis, penggunaan AI pada tahap ini masih berada dalam batas yang wajar.
Namun, batasan ini menjadi jelas ketika AI mulai menggantikan peran utama penulis. Jika seluruh isi skripsi dihasilkan oleh AI, termasuk analisis, pembahasan, dan kesimpulan, maka proses belajar telah terlewatkan. Mahasiswa tidak lagi berlatih berpikir kritis, melainkan hanya menyunting hasil kerja mesin. Dalam konteks akademik, ini bukan sekadar soal aturan, tetapi soal kehilangan kesempatan belajar yang sangat berharga.
Kenapa Etika Tetap Jadi Kunci?
Sobat Siber, etika akademik sering kali terdengar sebagai istilah formal, tetapi sebenarnya ia hadir untuk melindungi makna pendidikan itu sendiri. Etika memastikan bahwa proses belajar berjalan dengan jujur, adil, dan bertanggung jawab, termasuk ketika teknologi canggih seperti AI mulai digunakan.
Tanpa etika, AI bisa dengan mudah berubah dari alat bantu menjadi jalan pintas. Tulisan terlihat rapi, struktur tampak meyakinkan, tetapi penulisnya tidak benar-benar memahami apa yang ditulis. Dalam jangka panjang, kondisi ini justru merugikan mahasiswa karena kemampuan berpikir, menganalisis, dan menulis tidak berkembang.
Panduan Kemdiktisaintek menegaskan bahwa transparansi dan tanggung jawab adalah bagian penting dari penggunaan AI. Mahasiswa perlu menyadari kapan AI digunakan dan untuk tujuan apa. Kesadaran ini membantu menjaga kejujuran akademik sekaligus membangun kebiasaan belajar yang sehat.
Lebih dari itu, etika juga berperan dalam membentuk karakter. Dunia kerja dan kehidupan profesional menuntut integritas, bukan sekadar hasil cepat. Dengan menjaga etika sejak di bangku pendidikan, mahasiswa dipersiapkan menjadi individu yang tidak hanya cakap teknologi, tetapi juga bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi tersebut.
Penutup: AI sebagai Alat, Bukan Jalan Pintas
Sobat Siber, menjawab pertanyaan “Skripsi pakai AI, boleh nggak, sih?” jawabannya bukan sekadar ya atau tidak. AI boleh digunakan sepanjang ia membantu proses belajar, bukan menggantikannya. Yang tidak boleh adalah menyerahkan seluruh proses berpikir kepada mesin dan mengabaikan nilai kejujuran akademik.
Di era digital, kecakapan menggunakan AI adalah kebutuhan. Namun, kecakapan itu harus berjalan seiring dengan etika, tanggung jawab, dan literasi digital yang baik. Politeknik Siber dan Sandi Negara mendorong pemanfaatan teknologi secara bijak agar generasi muda tidak hanya menjadi pengguna AI, tetapi juga menjadi insan akademik yang kritis, berintegritas, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Karena pada akhirnya, teknologi yang hebat akan kehilangan maknanya tanpa manusia yang bertanggung jawab di belakangnya.
Referensi
- Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi – Kemdiktisaintek.
Buku Panduan Penggunaan Generative AI pada Pembelajaran di Perguruan Tinggi. Diakses pada 02 Januari 2026.
Waspada Web Defacement: Ancaman yang Mengubah Wajah Website di Ruang Digital
Sobat Siber, seiring meningkatnya ketergantungan masyarakat terhadap layanan digital, website menjadi salah satu sarana utama penyampaian informasi resmi. Website bukan hanya media komunikasi, tetapi juga cerminan kepercayaan publik terhadap institusi dan organisasi yang mengelolanya. Oleh karena itu, ketika sebuah website mengalami gangguan keamanan, dampaknya tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menyentuh aspek reputasi dan kepercayaan masyarakat.
Salah satu ancaman yang kerap terjadi adalah web defacement, yaitu kondisi ketika tampilan atau konten visual sebuah website diubah tanpa izin pengelolanya. Dalam berbagai laporan dan pernyataan resmi, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menyampaikan bahwa web defacement termasuk jenis serangan siber yang paling sering terjadi pada sistem elektronik berbasis web, terutama pada website yang melayani masyarakat luas. Serangan ini kerap menjadi indikator awal adanya kelemahan pengamanan sistem.
Perubahan tampilan website akibat defacement dapat berupa penggantian halaman utama, penyisipan pesan tertentu, maupun konten yang tidak sesuai dengan identitas resmi. Ketika hal ini terjadi, masyarakat yang mengakses website tersebut berpotensi meragukan keaslian informasi yang disajikan. Kondisi ini memperlihatkan bahwa web defacement bukan sekadar persoalan estetika, melainkan persoalan kepercayaan publik di ruang digital.
Pola Umum Terjadinya Web Defacement

Sumber : DOKUMENTASI KPU JAKARTA TIMUR 1
| Tangkapan layar peretasan yang dialami situs web Komisi Pemilihan Umum Jakarta Timur pada 17 Agustus 2021. KPU mengaku peretasan tersebut bisa terjadi karena masih banyak KPU daerah yang mengembangkan situs web sendiri. |
Sobat Siber, berdasarkan praktik keamanan siber dan rujukan resmi dari BSSN serta komunitas keamanan aplikasi web, web defacement umumnya terjadi melalui celah yang sebenarnya dapat diidentifikasi dan dicegah sejak awal. Salah satu pola yang sering ditemukan adalah pengelolaan unggah file yang tidak dilengkapi mekanisme penyaringan yang memadai. Ketika jenis dan isi file tidak diverifikasi dengan baik, celah ini dapat dimanfaatkan untuk menyisipkan skrip berbahaya yang memungkinkan perubahan tampilan website.
Faktor lain yang juga dominan adalah penggunaan sistem pengelola website yang tidak diperbarui secara berkala. Banyak website menggunakan perangkat lunak populer karena kemudahan pengelolaannya, namun pembaruan keamanan sering kali terabaikan. Padahal, celah pada sistem yang sudah diketahui secara luas dapat dengan mudah dimanfaatkan untuk mengambil alih atau mengubah konten website secara tidak sah.
Selain itu, konfigurasi server yang kurang tepat turut meningkatkan risiko. Pengaturan izin file dan direktori yang terlalu longgar, atau pengelolaan akses yang tidak mengikuti prinsip keamanan dasar, dapat membuka peluang bagi pihak tidak bertanggung jawab untuk memodifikasi tampilan website tanpa melalui mekanisme resmi.
Dampak Web Defacement bagi Masyarakat
Sobat Siber, dampak web defacement tidak berhenti pada perubahan tampilan semata. Ketika website resmi menampilkan konten yang tidak semestinya, masyarakat dapat kehilangan kepercayaan terhadap sumber informasi tersebut. Dalam konteks layanan publik, kondisi ini berpotensi menimbulkan kebingungan, kesalahpahaman, bahkan keraguan terhadap informasi resmi lainnya yang disampaikan secara digital.
BSSN menekankan bahwa insiden web defacement perlu ditangani secara serius karena dalam beberapa kasus dapat menjadi pintu masuk bagi gangguan keamanan lain yang lebih kompleks. Oleh sebab itu, penguatan keamanan website tidak hanya bertujuan mencegah perubahan tampilan, tetapi juga menjaga keandalan sistem dan perlindungan informasi secara menyeluruh.
Mitigasi dan Pencegahan Web Defacement
Sobat Siber, pencegahan web defacement membutuhkan pendekatan yang berlapis dan berkelanjutan. Selain literasi siber, terdapat sejumlah langkah mitigasi teknis yang direkomendasikan dalam praktik keamanan sistem elektronik.
Pembaruan sistem secara berkala menjadi langkah dasar yang tidak boleh diabaikan. Sistem pengelola website, plugin, dan komponen pendukung lainnya perlu selalu diperbarui untuk menutup celah keamanan yang telah diketahui. Di samping itu, pengaturan izin file dan direktori server perlu dilakukan secara ketat dengan menerapkan prinsip hak akses minimum.
Pengelolaan unggah file juga harus dilengkapi dengan mekanisme validasi yang jelas, sehingga hanya jenis file tertentu yang diperbolehkan. Penggunaan lapisan pengamanan tambahan seperti web application firewall dapat membantu menyaring lalu lintas berbahaya sebelum mencapai sistem utama. Pemantauan aktivitas dan audit keamanan secara berkala juga penting untuk mendeteksi potensi gangguan sejak dini.
Langkah-langkah tersebut, sebagaimana direkomendasikan dalam berbagai panduan BSSN dan CSIRT, menunjukkan bahwa keamanan website adalah proses yang terus berjalan, bukan tindakan sekali selesai.
Literasi Siber sebagai Upaya Pencegahan
Sobat Siber, web defacement menjadi pengingat bahwa keamanan digital merupakan proses berkelanjutan. Upaya pencegahan tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kesadaran dan kedisiplinan dalam mengelola sistem informasi. Bagi masyarakat, pemahaman terhadap ancaman siber membantu membangun sikap kritis dalam menyikapi informasi digital.
Politeknik Siber dan Sandi Negara mendukung upaya peningkatan literasi siber sebagai bagian dari penguatan ketahanan siber nasional. Dengan pemahaman yang baik, masyarakat diharapkan mampu berperan aktif dalam menjaga ruang digital yang aman, tepercaya, dan bertanggung jawab.
Penutup: Menjaga Kepercayaan di Ruang Digital
Sobat Siber, web defacement menunjukkan bahwa kepercayaan di ruang digital sangat bergantung pada kesiapan pengelolaan keamanan sistem. Website yang aman mencerminkan komitmen untuk melindungi informasi dan menghormati kepercayaan publik.
Melalui kesadaran bersama dan penerapan prinsip keamanan yang konsisten, ruang digital dapat menjadi lingkungan yang mendukung penyebaran informasi yang benar, aman, dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Keamanan digital adalah fondasi kepercayaan publik di era informasi.”
Referensi
- Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN)
Publikasi resmi mengenai ancaman siber, keamanan sistem elektronik, dan perlindungan website layanan publik.
https://www.bssn.go.id - CSIRT Nasional dan Sektoral
Panduan penanganan insiden keamanan siber, termasuk web defacement dan mitigasinya.
https://csirt.bssn.go.id - Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia
Materi literasi digital dan keamanan sistem elektronik untuk masyarakat.
https://www.kominfo.go.id - ANTARA News
Pemberitaan resmi mengenai peringatan dan imbauan pemerintah terkait tren serangan siber terhadap layanan berbasis web.
https://www.antaranews.com - OWASP Foundation
Rujukan internasional terkait risiko keamanan aplikasi web yang relevan dengan web defacement.
https://owasp.org - kompas.id
Pasca-peretasan Laman KPU Jaktim, KPU Perkuat Keamanan Siber
Deepfake dan Krisis Kepercayaan di Era Digital: Ancaman Teknologi AI terhadap Kepercayaan Publik
Sobat Siber, perkembangan teknologi kecerdasan buatan telah membawa perubahan besar dalam cara kita mengakses, memproduksi, dan memaknai informasi. Salah satu dampak yang kini menjadi perhatian serius adalah hadirnya teknologi deepfake, yaitu teknik manipulasi berbasis AI yang mampu meniru wajah, suara, dan gerakan seseorang secara sangat realistis. Teknologi ini membuat batas antara fakta dan rekayasa menjadi semakin kabur, sekaligus menghadirkan tantangan baru terhadap kepercayaan publik.
Di era digital saat ini, video dan suara tidak lagi bisa diterima begitu saja sebagai kebenaran. Konten visual yang dahulu dianggap sebagai bukti paling kuat kini justru bisa menjadi alat manipulasi. Tanpa kemampuan berpikir kritis dan literasi digital yang memadai, siapa pun berisiko menjadi korban misinformasi, penipuan, bahkan konflik sosial yang dipicu oleh konten palsu berbasis AI.
Kasus Deepfake: Pelajaran Nyata untuk Ruang Publik
Fenomena deepfake bukan sekadar wacana akademik. Berbagai peristiwa menunjukkan bahwa teknologi ini telah berdampak langsung pada ruang publik dan kehidupan masyarakat.
- Kasus Mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani menjadi salah satu contoh bagaimana manipulasi konten dapat menyeret nama pejabat negara. Sebuah video yang beredar menampilkan Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani Indrawati, seolah-olah menyebut guru sebagai “beban negara”. Video tersebut kemudian diklarifikasi sebagai hasil manipulasi dan pemotongan konteks pidato.

Sri Mulyani menegaskan bahwa ia tidak pernah menyampaikan pernyataan tersebut dan mengingatkan masyarakat agar lebih kritis dalam menyikapi konten digital. Kasus ini memperlihatkan betapa berbahayanya deepfake ketika menyasar figur publik, karena dapat memicu emosi massa dan memperkeruh situasi sosial. (Sumber: detik.com; CNA Indonesia) - Video mantan Presiden RI ke-7, Joko Widodo, yang diklaim berbicara dalam bahasa Mandarin juga sempat menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat.
Video tersebut beredar luas dan membuat banyak orang mempertanyakan keasliannya sebelum akhirnya dipastikan sebagai hasil manipulasi AI. Peristiwa ini menunjukkan bagaimana deepfake dapat digunakan untuk menggiring opini dan menciptakan keraguan publik, bahkan tanpa motif finansial yang jelas. (Sumber: detik.com) - Kasus penipuan menggunakan video dan suara menyerupai Presiden RI Prabowo Subianto memperlihatkan sisi lain deepfake yang lebih berbahaya. Dalam modus ini, pelaku membuat video palsu yang tampak resmi untuk menjanjikan bantuan dana dan meminta korban mentransfer sejumlah uang.

Dengan visual dan audio yang meyakinkan, banyak korban tidak menyadari bahwa mereka sedang berhadapan dengan rekayasa digital. Kasus ini menegaskan bahwa deepfake telah berkembang menjadi alat kejahatan siber yang nyata dan merugikan masyarakat. (Sumber: detik.com) - Kasus Taylor Swift menjadi contoh global tentang bagaimana deepfake dapat digunakan untuk menyerang figur publik secara masif. Pada awal 2024, gambar dan konten deepfake eksplisit berbasis AI yang menargetkan penyanyi Taylor Swift tersebar luas di media sosial, khususnya platform X.

Konten tersebut berupa pornografi palsu non-konsensual yang melanggar privasi dan martabat korban. Penyebarannya yang cepat memicu kecaman publik dan mendorong platform media sosial untuk mengambil langkah pembatasan. Kasus ini menyoroti sisi gelap teknologi AI dan urgensi perlindungan terhadap individu dari kekerasan digital. (Sumber: AP News)
Dampak Deepfake bagi Institusi dan Lembaga
Sobat Siber, dari berbagai kasus tersebut terlihat jelas bahwa deepfake tidak hanya mengancam individu, tetapi juga institusi. Ketika masyarakat mulai meragukan keaslian informasi visual, kepercayaan terhadap lembaga pendidikan, pemerintah, dan media berpotensi ikut terkikis. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat melemahkan peran institusi sebagai sumber informasi yang kredibel dan penopang nalar publik.
Bagi kampus, lembaga, dan instansi, tantangan deepfake seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat literasi digital, tata kelola informasi, serta kesadaran etika pemanfaatan teknologi sebagai bagian dari budaya organisasi dan akademik.
Penutup: Sobat Siber dan Tanggung Jawab Literasi Digital
Sobat Siber, deepfake mengajarkan kita satu hal penting: teknologi akan terus berkembang, tetapi tanggung jawab untuk menjaga kebenaran tetap berada di tangan manusia. Kita mungkin tidak bisa menghentikan kecanggihan AI, namun kita bisa memperkecil dampak buruknya melalui kesadaran, kehati-hatian, dan sikap kritis dalam menerima informasi.
Setiap kali Sobat Siber memilih untuk memverifikasi konten, menahan diri dari menyebarkan informasi yang meragukan, dan mengedepankan akal sehat, di situlah literasi digital benar-benar bekerja. Di lingkungan kampus dan lembaga, sikap ini bukan sekadar pilihan pribadi, melainkan bagian dari tanggung jawab moral untuk menjaga ruang publik yang sehat dan beradab.
“Di era deepfake, kebenaran bukan hanya soal teknologi, tetapi soal kesadaran dan tanggung jawab bersama.”
Referensi
- detik.com, Sri Mulyani Bantah Video Deepfake Sebut Guru Beban Negara
- CNA Indonesia, Sri Mulyani Tegaskan Video Hoaks Hasil Deepfake
- detik.com, Ancaman Hoaks Deepfake AI, Jokowi Jadi Korban
- detik.com, Pelaku Deepfake Video Presiden Prabowo Catut Nama Pejabat
- AP News, Taylor Swift AI Images Spark Debate Over Deepfake and Consent
Poltek SSN Terima Kunjungan Udinus untuk Potensi Kerja Sama Akademik
Bogor, 27 November 2025 – Politeknik Siber dan Sandi Negara (Poltek SSN) melaksanakan rapat pembahasan potensi kerja sama dengan Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) pada Kamis, 27 November 2025, bertempat di Poltek SSN, Ciseeng, Bogor.
Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Memorandum of Understanding (MoU) antara BSSN dan Udinus serta menjadi langkah awal dalam proses penyusunan Perjanjian Kerja Sama (PKS).
Rapat dibuka oleh Direktur Poltek SSN, Laksamana Pertama TNI Ir. Arnoldus Triono, M.M., M.Tr. Opsla., CIQNR, yang menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya pertemuan tersebut sekaligus menegaskan komitmen untuk memperkuat sinergi dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi dan penguatan ekosistem keamanan siber nasional. Agenda kemudian dilanjutkan dengan pemaparan profil Poltek SSN.
Wakil Rektor Bidang Akademik Udinus, Dr. Abdul Syukur, M.M., turut memaparkan profil institusi, termasuk capaian akademik, pengalaman kolaborasi dengan industri dan perguruan tinggi, serta kerja sama internasional yang telah berjalan.
Wakil Direktur I Poltek SSN memberikan penjelasan mengenai ruang lingkup kerja sama yang umum dilaksanakan, mencakup aspek Tri Dharma Perguruan Tinggi, pertukaran dosen dan pengajar tamu, pendampingan akademik, serta peluang kolaborasi dalam bidang keamanan siber.
Dalam diskusi, Udinus menyampaikan gambaran mengenai tantangan keamanan siber di wilayah Jawa Tengah dan membuka peluang pembentukan fasilitas pendukung literasi keamanan siber di lingkungan kampus. Udinus juga menyampaikan ketertarikan untuk menjajaki berbagai potensi kolaborasi akademik, termasuk publikasi ilmiah bersama Poltek SSN.
Melalui pertemuan ini, Poltek SSN dan Udinus menegaskan komitmen bersama untuk memperkuat pengembangan sumber daya manusia, meningkatkan literasi keamanan siber, serta mendorong terbentuknya ekosistem keamanan siber nasional yang adaptif terhadap tantangan ke depan.
Pelaksanaan Studi Banding Poltek SSN dengan IPDN untuk Penguatan Sistem Pendidikan dan Pengasuhan Taruna
Rabu, 26 November 2025 – Politeknik Siber dan Sandi Negara (Poltek SSN) telah melakukan kunjungan studi banding ke Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Tim Poltek SSN dipimpin oleh Direktur Poltek SSN, Bapak Ir. Arnoldus Triono, M.M., M.Tr. Opsla., CIQNR. Turut hadir Wakil Direktur III Kemahasiswaan, Kepala Prodi Rekayasa Kriptografi, tim Pengasuhan, tim Administrasi Akademik Kemahasiswaan, dan tim Sarana dan Prasarana. Lima taruna turut hadir sebagai perwakilan untuk berdiskusi langsung dengan praja IPDN.
Kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari rencana peningkatan mutu pendidikan, pengasuhan, dan organisasi taruna. Kegiatan dimulai dengan paparan profil lembaga yang menjelaskan sistem pendidikan dan pembinaan praja. Kegiatan berlanjut pada diskusi mengenai metode pembelajaran, layanan pendidikan, sistem peninjauan kurikulum, dan mekanisme penjaminan mutu yang diterapkan IPDN. Aspek-aspek ini menjadi perhatian Poltek SSN karena berkaitan langsung dengan transformasi kurikulum dan peningkatan layanan akademik.
Pada sesi berikutnya tim Poltek SSN membahas manajemen SDM pengasuh di IPDN. Topik yang dikaji mencakup proses seleksi pengasuh, pola pelatihan, pengembangan kompetensi, dan mekanisme evaluasi kinerja. Pembahasan mengenai pola pembinaan berlangsung cukup mendalam. Poltek SSN menelaah bagaimana IPDN mengintegrasikan pembinaan akademik, fisik, mental, spiritual, dan sosial. Perhatian juga diberikan pada implementasi kode etik praja, penegakan disiplin, dan mekanisme penyelesaian pelanggaran.
Para taruna Poltek SSN mengikuti sesi khusus bersama praja IPDN untuk mempelajari struktur organisasi praja. Mereka meninjau peran setiap jabatan, pola regenerasi kepemimpinan, batas otonomi organisasi, serta kontribusi praja dalam membangun budaya kepemimpinan dan tanggung jawab sosial. IPDN menjelaskan bagaimana organisasi praja menjadi sarana pembinaan kepemimpinan yang terstruktur.
Kegiatan ditutup dengan perumusan poin evaluasi yang akan menjadi masukan untuk penyempurnaan sistem Poltek SSN. Dari hasil studi banding ini akan diolah menjadi rekomendasi dalam empat bidang utama yaitu transformasi kurikulum dan layanan pendidikan, manajemen SDM pengasuh, pedoman pola pembinaan taruna, serta model tata kelola organisasi taruna. Langkah ini menjadi komitmen Poltek SSN untuk membangun ekosistem pendidikan yang lebih efektif, adaptif, dan selaras dengan kebutuhan ketahanan siber nasional.












