Upacara Pembukaan dan Pemberangkatan Satgastar Latsitardanus XLVI Tahun 2026
Semarang — Wakil Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) A. Rachmad Wibowo dan Direktur Politeknik Siber dan Sandi Negara (Poltek SSN) Arnoldus Triono menghadiri Upacara Pembukaan dan Pemberangkatan Satuan Tugas Taruna (Satgastar) Latihan Integrasi Taruna Wreda Nusantara (Latsitardanus) XLVI Tahun 2026. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Dermaga Samudera II, Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Jumat (17/1/2026).
Upacara dipimpin oleh Komandan Jenderal Akademi TNI, Letnan Jenderal TNI Sidharta Wisnu Graha. Kegiatan ini menandai secara resmi dimulainya rangkaian Latsitardanus XLVI Tahun 2026 sebagai wahana pembinaan dan penguatan integrasi antartaruna serta calon aparatur negara. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala BAKK Poltek SSN, Gubernur Akademi Militer, serta para pejabat dan perwakilan instansi terkait.
Satgastar Latsitardanus XLVI Tahun 2026 terdiri atas taruna Politeknik Siber dan Sandi Negara (Poltek SSN), Akademi Militer (Akmil), Akademi Angkatan Laut (AAL), Akademi Angkatan Udara (AAU), Akademi Kepolisian (Akpol), serta Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI).
Keberangkatan peserta Latsitardanus ke-46 menuju Provinsi Aceh dilaksanakan menggunakan tiga Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) milik TNI Angkatan Laut, yaitu KRI Banda Aceh-593, KRI Dr. Radjiman Wedyodiningrat-992, dan KRI Teluk Calang-524. Para peserta yang diberangkatkan akan melengkapi kekuatan personel Satuan Tugas Taruna Latihan (Satgastar) yang telah lebih dahulu berada di wilayah tugas sejak 10 Januari 2026.
Pelaksanaan Latihan Integrasi Taruna Wreda Nusantara XLVI Tahun 2026 dipusatkan di Provinsi Aceh, tepatnya di Kabupaten Aceh Tamiang. Selain sebagai sarana pembinaan dan integrasi antartaruna, kegiatan ini juga diarahkan untuk mendukung percepatan pemulihan wilayah yang terdampak bencana banjir melalui berbagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan ini bertujuan membentuk jiwa kepemimpinan, memperkuat semangat kebangsaan, serta meningkatkan kepedulian sosial para taruna dan peserta didik melalui pengabdian langsung kepada masyarakat.
Melalui Latsitardanus, diharapkan para peserta mampu mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama pendidikan, sekaligus menumbuhkan sinergi lintas matra dan lembaga sebagai bekal pengabdian kepada bangsa dan negara di masa mendatang.
Kepala BSSN Hadiri Apel Gelar Pasukan dan Peralatan Latsitardanus XLVI Taruna Poltek SSN Tahun 2026
Bogor — Pada 15 Januari 2026, Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Republik Indonesia, Letjen TNI Drs. Nugroho Sulistyo Budi, M.M., bersama Wakil Kepala BSSN, Komjen Pol. A. Rachmad Wibowo, S.I.K., dan beberapa pejabat tinggi pratama BSSN, melaksanakan kunjungan kerja ke Politeknik Siber dan Sandi Negara (Poltek SSN) dalam rangka pemberian pengarahan kepada pegawai Poltek SSN dan menghadiri Apel Gelar Pasukan dan Peralatan Latsitardanus XLVI Taruna Poltek SSN Tahun 2026.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Kepala BSSN menerima paparan singkat dari Direktur Poltek SSN terkait persiapan Latsitarda XLVI, progres kerja sama KOICA, pembaruan revitalisasi jaringan Poltek SSN, serta pemeliharaan sarana dan prasarana kampus.
Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan pelaksanaan Apel Khusus yang diikuti seluruh pegawai dan taruna Poltek SSN. Dalam amanatnya, Kepala BSSN menegaskan bahwa memasuki tahun 2026, penting untuk menjaga keberlanjutan program kerja yang progresif dan terukur. Capaian program kerja tahun 2025, khususnya dalam konsolidasi internal dan kolaborasi dengan pihak eksternal, dinilai telah memberikan dampak signifikan bagi BSSN dan Poltek SSN. Kepala BSSN juga menyampaikan apresiasi atas dedikasi dan kerja keras seluruh sivitas Poltek SSN sehingga berbagai capaian kinerja tahun 2025 dapat terealisasi dengan baik.
Setelah pelaksanaan Apel Khusus, dilanjutkan dengan Apel Gelar Pasukan dan Peralatan Latsitarda XLVI yang dilaksanakan di Auditorium Soemarkidjo, Kampus Bumi Sanapati, Ciseeng, Bogor. Kepala BSSN didampingi Direktur Poltek SSN, beserta jajaran melakukan pengecekan terhadap kesiapan personel dan perlengkapan taruna yang akan megikuti kegiatan Latsitarda XLVI di Provinsi Aceh. Dalam sambutannya Kepala BSSN menekankan bahwa penugasan tersebut merupakan misi kemanusiaan di wilayah terdampak bencana, bukan sekadar formalitas akademik.
Latsitarda tahun ini difokuskan pada kegiatan fisik bakti sosial guna membantu pemulihan infrastruktur dan kondisi masyarakat pascabencana. Para taruna diharapkan melaksanakan seluruh rangkaian kegiatan Latsitarda dengan penuh semangat, disiplin, dan partisipasi aktif. Selain itu, Kepala BSSN juga menekankan pentingnya menjunjung tinggi integritas. Keikutsertaan Taruna Poltek SSN dalam Latsitardanus XLVI harus mencerminkan kecerdasan, kedisiplinan, dan karakter kuat berlandaskan etos sandi, serta menjaga nama baik almamater melalui sikap dan tindakan terbaik.
Skripsi Pakai AI? Boleh Nggak, Sih?
Sobat Siber, beberapa tahun lalu, menulis skripsi identik dengan tumpukan buku, begadang di perpustakaan, dan berjuang merangkai kalimat demi kalimat. Kini, situasinya berubah. Dengan beberapa perintah singkat, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) bisa membantu merangkum bacaan, menyarankan struktur tulisan, bahkan merapikan bahasa.
Kemudahan ini membuat banyak mahasiswa bertanya-tanya, “Kalau skripsi dibantu AI, sebenarnya boleh atau tidak?” Pertanyaan ini wajar, apalagi AI kini begitu dekat dengan kehidupan belajar. Bagi siswa dan orang tua, kebingungan serupa juga muncul: apakah teknologi ini membantu pendidikan, atau justru merusak proses belajar?
Kenapa Isu Ini Jadi Perbincangan?
Sobat Siber, pertanyaan soal penggunaan AI dalam skripsi tidak muncul begitu saja. Isu ini ramai karena AI hadir tepat di tengah tekanan akademik yang nyata. Mahasiswa dituntut menyelesaikan tugas tepat waktu, memahami teori yang kompleks, menulis dengan bahasa akademik yang rapi, sekaligus menjaga orisinalitas karya. Di situ, AI terlihat seperti solusi cepat yang “terlalu menggoda untuk dilewatkan”.
Banyak mahasiswa awalnya menggunakan AI dengan niat baik, misalnya untuk memahami bacaan yang sulit atau mencari gambaran awal struktur tulisan. Namun, tanpa disadari, penggunaan ini bisa berkembang semakin jauh. Dari sekadar membantu, AI mulai mengambil alih. Dari merapikan kalimat, berubah menjadi menyusun paragraf. Dari memberi contoh, beralih menjadi membuatkan isi.
Di sisi lain, orang tua dan siswa juga mulai ikut bertanya-tanya. Apakah penggunaan AI ini masih bagian dari proses belajar yang wajar, atau sudah mengarah pada ketergantungan teknologi? Kekhawatiran ini muncul bukan karena teknologi dianggap buruk, melainkan karena proses belajar dikhawatirkan kehilangan maknanya.
Inilah yang membuat isu penggunaan AI dalam skripsi menjadi perbincangan luas. Bukan soal teknologi semata, tetapi soal bagaimana pendidikan menjaga nilai kejujuran, proses berpikir, dan pembentukan karakter akademik di tengah kemajuan teknologi.
Pandangan Resmi Dunia Pendidikan tentang AI
Sobat Siber, penting untuk dipahami bahwa dunia pendidikan tidak bersikap menutup diri terhadap AI. Pemerintah melalui Kemdiktisaintek justru menyadari bahwa AI adalah bagian dari realitas pembelajaran masa kini dan masa depan. Karena itu, yang dilakukan bukanlah pelarangan total, melainkan penyusunan panduan penggunaan yang bertanggung jawab.

sumber: kemdiktisaintek.go.id
Dalam Buku Panduan Penggunaan Generative AI pada Pembelajaran di Perguruan Tinggi (2024), AI diposisikan sebagai alat bantu pembelajaran. Artinya, AI diakui memiliki potensi besar untuk mendukung proses belajar, meningkatkan efisiensi, dan membantu mahasiswa memahami materi yang kompleks. Namun, potensi tersebut harus berjalan seiring dengan nilai-nilai akademik yang sudah lama dijaga.
Panduan ini menekankan bahwa AI tidak boleh menggantikan peran manusia dalam berpikir, menganalisis, dan mengambil keputusan akademik. Proses intelektual tetap menjadi inti pembelajaran. AI hanya membantu di sisi teknis dan pendukung, bukan mengambil alih kendali utama.
Pendekatan ini menunjukkan sikap yang seimbang. Dunia pendidikan tidak anti-teknologi, tetapi juga tidak membiarkan teknologi berjalan tanpa arah. Dengan kata lain, AI boleh digunakan, selama penggunaannya memperkuat proses belajar, bukan memotongnya.
Bagi mahasiswa, panduan ini menjadi pegangan agar tidak salah langkah. Bagi orang tua dan siswa, panduan ini memberi kepastian bahwa penggunaan AI dalam pendidikan tetap berada dalam koridor etika dan tanggung jawab.
Memahami Batasan Penggunaan AI
Sobat Siber, kunci dari penggunaan AI dalam karya ilmiah bukan terletak pada boleh atau tidaknya, melainkan pada bagaimana AI digunakan. Di sinilah batasan menjadi sangat penting. Tanpa batasan yang jelas, AI yang awalnya membantu justru bisa mengaburkan peran.
Dalam praktik yang sehat, AI dapat digunakan untuk membantu memahami konsep yang terasa rumit. Ketika menemui istilah teknis atau teori yang sulit dipahami, AI bisa menjadi “teman diskusi awal” yang membantu membuka pemahaman. AI juga dapat dimanfaatkan untuk menyusun kerangka tulisan, agar ide-ide utama tersusun rapi sebelum dikembangkan lebih lanjut oleh mahasiswa.
Selain itu, AI sering digunakan untuk merapikan tata bahasa, ejaan, dan alur kalimat. Bagi banyak mahasiswa, bagian ini terasa menantang, terutama saat menulis dalam bahasa akademik. Selama substansi tulisan tetap berasal dari pemikiran penulis, penggunaan AI pada tahap ini masih berada dalam batas yang wajar.
Namun, batasan ini menjadi jelas ketika AI mulai menggantikan peran utama penulis. Jika seluruh isi skripsi dihasilkan oleh AI, termasuk analisis, pembahasan, dan kesimpulan, maka proses belajar telah terlewatkan. Mahasiswa tidak lagi berlatih berpikir kritis, melainkan hanya menyunting hasil kerja mesin. Dalam konteks akademik, ini bukan sekadar soal aturan, tetapi soal kehilangan kesempatan belajar yang sangat berharga.
Kenapa Etika Tetap Jadi Kunci?
Sobat Siber, etika akademik sering kali terdengar sebagai istilah formal, tetapi sebenarnya ia hadir untuk melindungi makna pendidikan itu sendiri. Etika memastikan bahwa proses belajar berjalan dengan jujur, adil, dan bertanggung jawab, termasuk ketika teknologi canggih seperti AI mulai digunakan.
Tanpa etika, AI bisa dengan mudah berubah dari alat bantu menjadi jalan pintas. Tulisan terlihat rapi, struktur tampak meyakinkan, tetapi penulisnya tidak benar-benar memahami apa yang ditulis. Dalam jangka panjang, kondisi ini justru merugikan mahasiswa karena kemampuan berpikir, menganalisis, dan menulis tidak berkembang.
Panduan Kemdiktisaintek menegaskan bahwa transparansi dan tanggung jawab adalah bagian penting dari penggunaan AI. Mahasiswa perlu menyadari kapan AI digunakan dan untuk tujuan apa. Kesadaran ini membantu menjaga kejujuran akademik sekaligus membangun kebiasaan belajar yang sehat.
Lebih dari itu, etika juga berperan dalam membentuk karakter. Dunia kerja dan kehidupan profesional menuntut integritas, bukan sekadar hasil cepat. Dengan menjaga etika sejak di bangku pendidikan, mahasiswa dipersiapkan menjadi individu yang tidak hanya cakap teknologi, tetapi juga bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi tersebut.
Penutup: AI sebagai Alat, Bukan Jalan Pintas
Sobat Siber, menjawab pertanyaan “Skripsi pakai AI, boleh nggak, sih?” jawabannya bukan sekadar ya atau tidak. AI boleh digunakan sepanjang ia membantu proses belajar, bukan menggantikannya. Yang tidak boleh adalah menyerahkan seluruh proses berpikir kepada mesin dan mengabaikan nilai kejujuran akademik.
Di era digital, kecakapan menggunakan AI adalah kebutuhan. Namun, kecakapan itu harus berjalan seiring dengan etika, tanggung jawab, dan literasi digital yang baik. Politeknik Siber dan Sandi Negara mendorong pemanfaatan teknologi secara bijak agar generasi muda tidak hanya menjadi pengguna AI, tetapi juga menjadi insan akademik yang kritis, berintegritas, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Karena pada akhirnya, teknologi yang hebat akan kehilangan maknanya tanpa manusia yang bertanggung jawab di belakangnya.
Referensi
- Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi – Kemdiktisaintek.
Buku Panduan Penggunaan Generative AI pada Pembelajaran di Perguruan Tinggi. Diakses pada 02 Januari 2026.
Waspada Web Defacement: Ancaman yang Mengubah Wajah Website di Ruang Digital
Sobat Siber, seiring meningkatnya ketergantungan masyarakat terhadap layanan digital, website menjadi salah satu sarana utama penyampaian informasi resmi. Website bukan hanya media komunikasi, tetapi juga cerminan kepercayaan publik terhadap institusi dan organisasi yang mengelolanya. Oleh karena itu, ketika sebuah website mengalami gangguan keamanan, dampaknya tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menyentuh aspek reputasi dan kepercayaan masyarakat.
Salah satu ancaman yang kerap terjadi adalah web defacement, yaitu kondisi ketika tampilan atau konten visual sebuah website diubah tanpa izin pengelolanya. Dalam berbagai laporan dan pernyataan resmi, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menyampaikan bahwa web defacement termasuk jenis serangan siber yang paling sering terjadi pada sistem elektronik berbasis web, terutama pada website yang melayani masyarakat luas. Serangan ini kerap menjadi indikator awal adanya kelemahan pengamanan sistem.
Perubahan tampilan website akibat defacement dapat berupa penggantian halaman utama, penyisipan pesan tertentu, maupun konten yang tidak sesuai dengan identitas resmi. Ketika hal ini terjadi, masyarakat yang mengakses website tersebut berpotensi meragukan keaslian informasi yang disajikan. Kondisi ini memperlihatkan bahwa web defacement bukan sekadar persoalan estetika, melainkan persoalan kepercayaan publik di ruang digital.
Pola Umum Terjadinya Web Defacement

Sumber : DOKUMENTASI KPU JAKARTA TIMUR 1
| Tangkapan layar peretasan yang dialami situs web Komisi Pemilihan Umum Jakarta Timur pada 17 Agustus 2021. KPU mengaku peretasan tersebut bisa terjadi karena masih banyak KPU daerah yang mengembangkan situs web sendiri. |
Sobat Siber, berdasarkan praktik keamanan siber dan rujukan resmi dari BSSN serta komunitas keamanan aplikasi web, web defacement umumnya terjadi melalui celah yang sebenarnya dapat diidentifikasi dan dicegah sejak awal. Salah satu pola yang sering ditemukan adalah pengelolaan unggah file yang tidak dilengkapi mekanisme penyaringan yang memadai. Ketika jenis dan isi file tidak diverifikasi dengan baik, celah ini dapat dimanfaatkan untuk menyisipkan skrip berbahaya yang memungkinkan perubahan tampilan website.
Faktor lain yang juga dominan adalah penggunaan sistem pengelola website yang tidak diperbarui secara berkala. Banyak website menggunakan perangkat lunak populer karena kemudahan pengelolaannya, namun pembaruan keamanan sering kali terabaikan. Padahal, celah pada sistem yang sudah diketahui secara luas dapat dengan mudah dimanfaatkan untuk mengambil alih atau mengubah konten website secara tidak sah.
Selain itu, konfigurasi server yang kurang tepat turut meningkatkan risiko. Pengaturan izin file dan direktori yang terlalu longgar, atau pengelolaan akses yang tidak mengikuti prinsip keamanan dasar, dapat membuka peluang bagi pihak tidak bertanggung jawab untuk memodifikasi tampilan website tanpa melalui mekanisme resmi.
Dampak Web Defacement bagi Masyarakat
Sobat Siber, dampak web defacement tidak berhenti pada perubahan tampilan semata. Ketika website resmi menampilkan konten yang tidak semestinya, masyarakat dapat kehilangan kepercayaan terhadap sumber informasi tersebut. Dalam konteks layanan publik, kondisi ini berpotensi menimbulkan kebingungan, kesalahpahaman, bahkan keraguan terhadap informasi resmi lainnya yang disampaikan secara digital.
BSSN menekankan bahwa insiden web defacement perlu ditangani secara serius karena dalam beberapa kasus dapat menjadi pintu masuk bagi gangguan keamanan lain yang lebih kompleks. Oleh sebab itu, penguatan keamanan website tidak hanya bertujuan mencegah perubahan tampilan, tetapi juga menjaga keandalan sistem dan perlindungan informasi secara menyeluruh.
Mitigasi dan Pencegahan Web Defacement
Sobat Siber, pencegahan web defacement membutuhkan pendekatan yang berlapis dan berkelanjutan. Selain literasi siber, terdapat sejumlah langkah mitigasi teknis yang direkomendasikan dalam praktik keamanan sistem elektronik.
Pembaruan sistem secara berkala menjadi langkah dasar yang tidak boleh diabaikan. Sistem pengelola website, plugin, dan komponen pendukung lainnya perlu selalu diperbarui untuk menutup celah keamanan yang telah diketahui. Di samping itu, pengaturan izin file dan direktori server perlu dilakukan secara ketat dengan menerapkan prinsip hak akses minimum.
Pengelolaan unggah file juga harus dilengkapi dengan mekanisme validasi yang jelas, sehingga hanya jenis file tertentu yang diperbolehkan. Penggunaan lapisan pengamanan tambahan seperti web application firewall dapat membantu menyaring lalu lintas berbahaya sebelum mencapai sistem utama. Pemantauan aktivitas dan audit keamanan secara berkala juga penting untuk mendeteksi potensi gangguan sejak dini.
Langkah-langkah tersebut, sebagaimana direkomendasikan dalam berbagai panduan BSSN dan CSIRT, menunjukkan bahwa keamanan website adalah proses yang terus berjalan, bukan tindakan sekali selesai.
Literasi Siber sebagai Upaya Pencegahan
Sobat Siber, web defacement menjadi pengingat bahwa keamanan digital merupakan proses berkelanjutan. Upaya pencegahan tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kesadaran dan kedisiplinan dalam mengelola sistem informasi. Bagi masyarakat, pemahaman terhadap ancaman siber membantu membangun sikap kritis dalam menyikapi informasi digital.
Politeknik Siber dan Sandi Negara mendukung upaya peningkatan literasi siber sebagai bagian dari penguatan ketahanan siber nasional. Dengan pemahaman yang baik, masyarakat diharapkan mampu berperan aktif dalam menjaga ruang digital yang aman, tepercaya, dan bertanggung jawab.
Penutup: Menjaga Kepercayaan di Ruang Digital
Sobat Siber, web defacement menunjukkan bahwa kepercayaan di ruang digital sangat bergantung pada kesiapan pengelolaan keamanan sistem. Website yang aman mencerminkan komitmen untuk melindungi informasi dan menghormati kepercayaan publik.
Melalui kesadaran bersama dan penerapan prinsip keamanan yang konsisten, ruang digital dapat menjadi lingkungan yang mendukung penyebaran informasi yang benar, aman, dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Keamanan digital adalah fondasi kepercayaan publik di era informasi.”
Referensi
- Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN)
Publikasi resmi mengenai ancaman siber, keamanan sistem elektronik, dan perlindungan website layanan publik.
https://www.bssn.go.id - CSIRT Nasional dan Sektoral
Panduan penanganan insiden keamanan siber, termasuk web defacement dan mitigasinya.
https://csirt.bssn.go.id - Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia
Materi literasi digital dan keamanan sistem elektronik untuk masyarakat.
https://www.kominfo.go.id - ANTARA News
Pemberitaan resmi mengenai peringatan dan imbauan pemerintah terkait tren serangan siber terhadap layanan berbasis web.
https://www.antaranews.com - OWASP Foundation
Rujukan internasional terkait risiko keamanan aplikasi web yang relevan dengan web defacement.
https://owasp.org - kompas.id
Pasca-peretasan Laman KPU Jaktim, KPU Perkuat Keamanan Siber
Deepfake dan Krisis Kepercayaan di Era Digital: Ancaman Teknologi AI terhadap Kepercayaan Publik
Sobat Siber, perkembangan teknologi kecerdasan buatan telah membawa perubahan besar dalam cara kita mengakses, memproduksi, dan memaknai informasi. Salah satu dampak yang kini menjadi perhatian serius adalah hadirnya teknologi deepfake, yaitu teknik manipulasi berbasis AI yang mampu meniru wajah, suara, dan gerakan seseorang secara sangat realistis. Teknologi ini membuat batas antara fakta dan rekayasa menjadi semakin kabur, sekaligus menghadirkan tantangan baru terhadap kepercayaan publik.
Di era digital saat ini, video dan suara tidak lagi bisa diterima begitu saja sebagai kebenaran. Konten visual yang dahulu dianggap sebagai bukti paling kuat kini justru bisa menjadi alat manipulasi. Tanpa kemampuan berpikir kritis dan literasi digital yang memadai, siapa pun berisiko menjadi korban misinformasi, penipuan, bahkan konflik sosial yang dipicu oleh konten palsu berbasis AI.
Kasus Deepfake: Pelajaran Nyata untuk Ruang Publik
Fenomena deepfake bukan sekadar wacana akademik. Berbagai peristiwa menunjukkan bahwa teknologi ini telah berdampak langsung pada ruang publik dan kehidupan masyarakat.
- Kasus Mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani menjadi salah satu contoh bagaimana manipulasi konten dapat menyeret nama pejabat negara. Sebuah video yang beredar menampilkan Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani Indrawati, seolah-olah menyebut guru sebagai “beban negara”. Video tersebut kemudian diklarifikasi sebagai hasil manipulasi dan pemotongan konteks pidato.

Sri Mulyani menegaskan bahwa ia tidak pernah menyampaikan pernyataan tersebut dan mengingatkan masyarakat agar lebih kritis dalam menyikapi konten digital. Kasus ini memperlihatkan betapa berbahayanya deepfake ketika menyasar figur publik, karena dapat memicu emosi massa dan memperkeruh situasi sosial. (Sumber: detik.com; CNA Indonesia) - Video mantan Presiden RI ke-7, Joko Widodo, yang diklaim berbicara dalam bahasa Mandarin juga sempat menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat.
Video tersebut beredar luas dan membuat banyak orang mempertanyakan keasliannya sebelum akhirnya dipastikan sebagai hasil manipulasi AI. Peristiwa ini menunjukkan bagaimana deepfake dapat digunakan untuk menggiring opini dan menciptakan keraguan publik, bahkan tanpa motif finansial yang jelas. (Sumber: detik.com) - Kasus penipuan menggunakan video dan suara menyerupai Presiden RI Prabowo Subianto memperlihatkan sisi lain deepfake yang lebih berbahaya. Dalam modus ini, pelaku membuat video palsu yang tampak resmi untuk menjanjikan bantuan dana dan meminta korban mentransfer sejumlah uang.

Dengan visual dan audio yang meyakinkan, banyak korban tidak menyadari bahwa mereka sedang berhadapan dengan rekayasa digital. Kasus ini menegaskan bahwa deepfake telah berkembang menjadi alat kejahatan siber yang nyata dan merugikan masyarakat. (Sumber: detik.com) - Kasus Taylor Swift menjadi contoh global tentang bagaimana deepfake dapat digunakan untuk menyerang figur publik secara masif. Pada awal 2024, gambar dan konten deepfake eksplisit berbasis AI yang menargetkan penyanyi Taylor Swift tersebar luas di media sosial, khususnya platform X.

Konten tersebut berupa pornografi palsu non-konsensual yang melanggar privasi dan martabat korban. Penyebarannya yang cepat memicu kecaman publik dan mendorong platform media sosial untuk mengambil langkah pembatasan. Kasus ini menyoroti sisi gelap teknologi AI dan urgensi perlindungan terhadap individu dari kekerasan digital. (Sumber: AP News)
Dampak Deepfake bagi Institusi dan Lembaga
Sobat Siber, dari berbagai kasus tersebut terlihat jelas bahwa deepfake tidak hanya mengancam individu, tetapi juga institusi. Ketika masyarakat mulai meragukan keaslian informasi visual, kepercayaan terhadap lembaga pendidikan, pemerintah, dan media berpotensi ikut terkikis. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat melemahkan peran institusi sebagai sumber informasi yang kredibel dan penopang nalar publik.
Bagi kampus, lembaga, dan instansi, tantangan deepfake seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat literasi digital, tata kelola informasi, serta kesadaran etika pemanfaatan teknologi sebagai bagian dari budaya organisasi dan akademik.
Penutup: Sobat Siber dan Tanggung Jawab Literasi Digital
Sobat Siber, deepfake mengajarkan kita satu hal penting: teknologi akan terus berkembang, tetapi tanggung jawab untuk menjaga kebenaran tetap berada di tangan manusia. Kita mungkin tidak bisa menghentikan kecanggihan AI, namun kita bisa memperkecil dampak buruknya melalui kesadaran, kehati-hatian, dan sikap kritis dalam menerima informasi.
Setiap kali Sobat Siber memilih untuk memverifikasi konten, menahan diri dari menyebarkan informasi yang meragukan, dan mengedepankan akal sehat, di situlah literasi digital benar-benar bekerja. Di lingkungan kampus dan lembaga, sikap ini bukan sekadar pilihan pribadi, melainkan bagian dari tanggung jawab moral untuk menjaga ruang publik yang sehat dan beradab.
“Di era deepfake, kebenaran bukan hanya soal teknologi, tetapi soal kesadaran dan tanggung jawab bersama.”
Referensi
- detik.com, Sri Mulyani Bantah Video Deepfake Sebut Guru Beban Negara
- CNA Indonesia, Sri Mulyani Tegaskan Video Hoaks Hasil Deepfake
- detik.com, Ancaman Hoaks Deepfake AI, Jokowi Jadi Korban
- detik.com, Pelaku Deepfake Video Presiden Prabowo Catut Nama Pejabat
- AP News, Taylor Swift AI Images Spark Debate Over Deepfake and Consent
Poltek SSN Terima Kunjungan Udinus untuk Potensi Kerja Sama Akademik
Bogor, 27 November 2025 – Politeknik Siber dan Sandi Negara (Poltek SSN) melaksanakan rapat pembahasan potensi kerja sama dengan Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) pada Kamis, 27 November 2025, bertempat di Poltek SSN, Ciseeng, Bogor.
Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Memorandum of Understanding (MoU) antara BSSN dan Udinus serta menjadi langkah awal dalam proses penyusunan Perjanjian Kerja Sama (PKS).
Rapat dibuka oleh Direktur Poltek SSN, Laksamana Pertama TNI Ir. Arnoldus Triono, M.M., M.Tr. Opsla., CIQNR, yang menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya pertemuan tersebut sekaligus menegaskan komitmen untuk memperkuat sinergi dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi dan penguatan ekosistem keamanan siber nasional. Agenda kemudian dilanjutkan dengan pemaparan profil Poltek SSN.
Wakil Rektor Bidang Akademik Udinus, Dr. Abdul Syukur, M.M., turut memaparkan profil institusi, termasuk capaian akademik, pengalaman kolaborasi dengan industri dan perguruan tinggi, serta kerja sama internasional yang telah berjalan.
Wakil Direktur I Poltek SSN memberikan penjelasan mengenai ruang lingkup kerja sama yang umum dilaksanakan, mencakup aspek Tri Dharma Perguruan Tinggi, pertukaran dosen dan pengajar tamu, pendampingan akademik, serta peluang kolaborasi dalam bidang keamanan siber.
Dalam diskusi, Udinus menyampaikan gambaran mengenai tantangan keamanan siber di wilayah Jawa Tengah dan membuka peluang pembentukan fasilitas pendukung literasi keamanan siber di lingkungan kampus. Udinus juga menyampaikan ketertarikan untuk menjajaki berbagai potensi kolaborasi akademik, termasuk publikasi ilmiah bersama Poltek SSN.
Melalui pertemuan ini, Poltek SSN dan Udinus menegaskan komitmen bersama untuk memperkuat pengembangan sumber daya manusia, meningkatkan literasi keamanan siber, serta mendorong terbentuknya ekosistem keamanan siber nasional yang adaptif terhadap tantangan ke depan.
Pelaksanaan Studi Banding Poltek SSN dengan IPDN untuk Penguatan Sistem Pendidikan dan Pengasuhan Taruna
Rabu, 26 November 2025 – Politeknik Siber dan Sandi Negara (Poltek SSN) telah melakukan kunjungan studi banding ke Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Tim Poltek SSN dipimpin oleh Direktur Poltek SSN, Bapak Ir. Arnoldus Triono, M.M., M.Tr. Opsla., CIQNR. Turut hadir Wakil Direktur III Kemahasiswaan, Kepala Prodi Rekayasa Kriptografi, tim Pengasuhan, tim Administrasi Akademik Kemahasiswaan, dan tim Sarana dan Prasarana. Lima taruna turut hadir sebagai perwakilan untuk berdiskusi langsung dengan praja IPDN.
Kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari rencana peningkatan mutu pendidikan, pengasuhan, dan organisasi taruna. Kegiatan dimulai dengan paparan profil lembaga yang menjelaskan sistem pendidikan dan pembinaan praja. Kegiatan berlanjut pada diskusi mengenai metode pembelajaran, layanan pendidikan, sistem peninjauan kurikulum, dan mekanisme penjaminan mutu yang diterapkan IPDN. Aspek-aspek ini menjadi perhatian Poltek SSN karena berkaitan langsung dengan transformasi kurikulum dan peningkatan layanan akademik.
Pada sesi berikutnya tim Poltek SSN membahas manajemen SDM pengasuh di IPDN. Topik yang dikaji mencakup proses seleksi pengasuh, pola pelatihan, pengembangan kompetensi, dan mekanisme evaluasi kinerja. Pembahasan mengenai pola pembinaan berlangsung cukup mendalam. Poltek SSN menelaah bagaimana IPDN mengintegrasikan pembinaan akademik, fisik, mental, spiritual, dan sosial. Perhatian juga diberikan pada implementasi kode etik praja, penegakan disiplin, dan mekanisme penyelesaian pelanggaran.
Para taruna Poltek SSN mengikuti sesi khusus bersama praja IPDN untuk mempelajari struktur organisasi praja. Mereka meninjau peran setiap jabatan, pola regenerasi kepemimpinan, batas otonomi organisasi, serta kontribusi praja dalam membangun budaya kepemimpinan dan tanggung jawab sosial. IPDN menjelaskan bagaimana organisasi praja menjadi sarana pembinaan kepemimpinan yang terstruktur.
Kegiatan ditutup dengan perumusan poin evaluasi yang akan menjadi masukan untuk penyempurnaan sistem Poltek SSN. Dari hasil studi banding ini akan diolah menjadi rekomendasi dalam empat bidang utama yaitu transformasi kurikulum dan layanan pendidikan, manajemen SDM pengasuh, pedoman pola pembinaan taruna, serta model tata kelola organisasi taruna. Langkah ini menjadi komitmen Poltek SSN untuk membangun ekosistem pendidikan yang lebih efektif, adaptif, dan selaras dengan kebutuhan ketahanan siber nasional.
Poltek SSN Lakukan Studi Banding Strategis ke PPI Curug untuk Penguatan Kurikulum dan Pengasuhan Taruna
Tangerang, 24 November 2025 – Politeknik Siber dan Sandi Negara (Poltek SSN) melaksanakan studi banding strategis ke Politeknik Penerbangan Indonesia (PPI) Curug pada Senin, 24 November 2025 sebagai bagian dari upaya penguatan transformasi kurikulum, layanan pendidikan, dan pengasuhan taruna. Kegiatan ini dipimpin oleh Wakil Direktur III Poltek SSN, Dr. Prasetyo Adi Wibowo Putro, S.Kom., M.T.I., dan diterima langsung oleh Direktur PPI Curug, Capt. Megi H. Helmiadi, beserta jajaran pimpinan.
Dalam sambutan pembuka, Direktur PPI Curug menyampaikan apresiasi atas inisiatif Poltek SSN untuk memperluas referensi tata kelola pendidikan dan pengasuhan taruna. Beliau berharap kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi dan pertukaran praktik terbaik antarlembaga. Sementara itu, Wadir III Poltek SSN menegaskan bahwa studi banding ini merupakan langkah konkret untuk memperkuat kualitas pembelajaran, meningkatkan efektivitas pengasuhan, serta mengakselerasi penyempurnaan kurikulum di Poltek SSN.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan fasilitas kampus, mulai dari ruang kelas dan laboratorium, area latihan fisik, hingga mess taruna. Peninjauan lapangan ini memberikan perspektif nyata mengenai implementasi standar pembelajaran dan pengasuhan di lingkungan PPI Curug.
Kegiatan dilanjutkan dengan presentasi profil PPI Curug sebagai pengenalan awal, kemudian masuk pada diskusi mengenai layanan pendidikan dan pengelolaan taruna. Dalam beberapa sesi yang berlangsung intensif, kedua lembaga membahas sejumlah aspek penting, mulai dari sistem pembelajaran dan metode instruksional, fasilitas belajar, hingga mekanisme penjaminan mutu.
Pembahasan kemudian berlanjut pada struktur dan organisasi Taruna, termasuk peran, fungsi jabatan, serta pola regenerasi kepemimpinan yang menjadi ciri khas PPI Curug sebagai institusi vokasi berstandar tinggi. Selain itu, Poltek SSN dan PPI Curug juga mendalami manajemen SDM Pengasuh, mulai dari proses rekrutmen, pelatihan, evaluasi kinerja, hingga strategi pengembangan kompetensi. Tidak hanya itu, kedua pihak turut bertukar pandangan mengenai pola pembinaan, disiplin, dan tata tertib Taruna, yang menjadi fondasi penting dalam pembentukan karakter dan etos profesional.
Seluruh rangkaian diskusi berlangsung hangat dan saling melengkapi, memberikan gambaran menyeluruh mengenai praktik terbaik yang dapat menjadi referensi dalam penguatan layanan pendidikan dan pengasuhan Taruna di Poltek SSN.
Melalui kegiatan ini, Poltek SSN memperoleh berbagai inspirasi dan referensi strategis yang akan dirumuskan dalam penyempurnaan sistem internal, khususnya pada aspek kurikulum, pengembangan SDM pengasuh, serta manajemen pembinaan taruna. Langkah ini menjadi komitmen Poltek SSN dalam membangun ekosistem pendidikan yang modern, unggul, dan adaptif terhadap kebutuhan dunia siber dan persandian di masa depan.
Poltek SSN Lakukan Studi Banding Strategis ke AAL untuk Akselerasi Mutu Pendidikan dan Pengasuhan
Politeknik Siber dan Sandi Negara (Poltek SSN) terus memperkuat kualitas pendidikan dan pengasuhan taruna melalui studi banding ke Akademi Angkatan Laut (AAL) pada Kamis, 20 November 2025 di Krembangan, Surabaya. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya strategis Poltek SSN dalam meningkatkan standar tata kelola pendidikan demi menghasilkan SDM siber dan sandi yang unggul.
Rombongan dipimpin oleh Direktur Poltek SSN, Laksamana Pertama TNI Ir. Arnoldus Triono, M.M., M.Tr.Opsla., CIQnR, bersama civitas akademika. Kehadiran Poltek SSN diterima secara resmi oleh Sekretaris Lembaga (Seklem) AAL, Laksma TNI Dr. Asep Iwa Soemantri, S.E., M.M., M.Tr.Opsla., beserta jajaran AAL di ruang rapat kampus.
Dalam sambutannya, Seklem AAL menyampaikan apresiasi atas inisiatif Poltek SSN, serta berharap kunjungan ini menjadi ruang berbagi pengalaman dan model pembelajaran yang dapat dimanfaatkan Poltek SSN dalam pengembangan institusinya.
Sementara itu, Direktur Poltek SSN menegaskan bahwa studi banding ini bukan sekadar agenda kunjungan, namun langkah konkret Poltek SSN untuk menyerap praktik terbaik dari lembaga pendidikan militer yang telah terbukti unggul dalam pembinaan karakter dan tata kelola pendidikan.
“Studi banding ini harus menjadi peluang bagi Poltek SSN untuk mengambil hal-hal yang dapat kita terapkan demi peningkatan mutu pembelajaran dan akreditasi. Kami berterima kasih atas penerimaan yang sangat baik dari AAL,” ujar Laksda Triono.
Diskusi intensif kemudian dilakukan, membahas sejumlah aspek penting seperti sistem pembelajaran, layanan pendidikan, manajemen SDM pengasuh, hingga pola pengasuhan taruna yang diterapkan di AAL. Setiap poin dipetakan untuk melihat potensi penerapannya di Poltek SSN sebagai bagian dari akselerasi menuju institusi pendidikan vokasi berkelas dunia.
Selanjutnya rombongan Poltek SSN diajak berkeliling meninjau fasilitas kampus Akademi Angkatan Laut seperti: ruang makan Taruna AAL, Pusat Pelatihan dan Pengajaran serta Brid Simulator (Simulasi Kapal Laut) dan fasilitas lainnya.
Melalui studi banding ini, Poltek SSN berupaya memperkaya referensi dan benchmark guna memperkuat sistem internal, terutama pada aspek pembelajaran modern, pengasuhan karakter taruna, serta pengembangan layanan pendidikan yang responsif terhadap dinamika teknologi. Kegiatan ini menjadi bukti komitmen Poltek SSN dalam membangun ekosistem pendidikan yang adaptif, unggul, dan relevan bagi tantangan keamanan siber dan persandian di masa depan.
Poltek Ssn Gelar Pengukuhan Pengurus Affiliasi Provinsi Jawa Barat Institut Karate-Do Indonesia (Inkai) Perisai Sanapati
Jumat, 14 November 2025 — Politeknik Siber dan Sandi Negara (Poltek SSN) melaksanakan kegiatan Pengukuhan Pengurus Affiliasi Provinsi Jawa Barat Institut Karate-Do Indonesia (INKAI) Perisai Sanapati yang sebelumnya ranting. Kegiatan yang dibersamai dengan Ujian Kenaikan Tingkat ini digelar di Aula Soemarkidjo Kampus Bumi Sanapati Poltek SSN Bogor.
Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Letjen TNI (Purn) Drs. Nugroho Sulistyo Budi, M.M., M.Han dan pejabat tinggi BSSN serta Ketua Dewan Guru INKAI Shihan Abdul Kadir dan Ketua Umum PP INKAI Laksda TNI Dr. Ivan Yulivan, S.E., M.M., CHRMP., M.TR (HAN).
Dalam sambutannya, Kepala BSSN Nugroho menekankan pentingnya nilai-nilai dasar yang harus dimiliki oleh setiap karateka, terutama pelaksanaan Janji Karate yang sangat relevan dengan pembentukan karakter taruna Poltek SSN sebagai bekal tugas menjaga keamanan siber dan informasi negara di masa depan.
Dengan peningkatan status dari ranting menjadi Affiliasi di bawah INKAI Jawa Barat, serta pengukuhan pengurus INKAI Perisai Sanapati diharapkan dapat meningkatkan mutu pelatihan serta mampu membentuk taruna Poltek SSN menjadi karateka muda yang berprestasi dan berkarakter tangguh.













