Skripsi Pakai AI? Boleh Nggak, Sih?
Sobat Siber, beberapa tahun lalu, menulis skripsi identik dengan tumpukan buku, begadang di perpustakaan, dan berjuang merangkai kalimat demi kalimat. Kini, situasinya berubah. Dengan beberapa perintah singkat, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) bisa membantu merangkum bacaan, menyarankan struktur tulisan, bahkan merapikan bahasa.
Kemudahan ini membuat banyak mahasiswa bertanya-tanya, “Kalau skripsi dibantu AI, sebenarnya boleh atau tidak?” Pertanyaan ini wajar, apalagi AI kini begitu dekat dengan kehidupan belajar. Bagi siswa dan orang tua, kebingungan serupa juga muncul: apakah teknologi ini membantu pendidikan, atau justru merusak proses belajar?
Kenapa Isu Ini Jadi Perbincangan?
Sobat Siber, pertanyaan soal penggunaan AI dalam skripsi tidak muncul begitu saja. Isu ini ramai karena AI hadir tepat di tengah tekanan akademik yang nyata. Mahasiswa dituntut menyelesaikan tugas tepat waktu, memahami teori yang kompleks, menulis dengan bahasa akademik yang rapi, sekaligus menjaga orisinalitas karya. Di situ, AI terlihat seperti solusi cepat yang “terlalu menggoda untuk dilewatkan”.
Banyak mahasiswa awalnya menggunakan AI dengan niat baik, misalnya untuk memahami bacaan yang sulit atau mencari gambaran awal struktur tulisan. Namun, tanpa disadari, penggunaan ini bisa berkembang semakin jauh. Dari sekadar membantu, AI mulai mengambil alih. Dari merapikan kalimat, berubah menjadi menyusun paragraf. Dari memberi contoh, beralih menjadi membuatkan isi.
Di sisi lain, orang tua dan siswa juga mulai ikut bertanya-tanya. Apakah penggunaan AI ini masih bagian dari proses belajar yang wajar, atau sudah mengarah pada ketergantungan teknologi? Kekhawatiran ini muncul bukan karena teknologi dianggap buruk, melainkan karena proses belajar dikhawatirkan kehilangan maknanya.
Inilah yang membuat isu penggunaan AI dalam skripsi menjadi perbincangan luas. Bukan soal teknologi semata, tetapi soal bagaimana pendidikan menjaga nilai kejujuran, proses berpikir, dan pembentukan karakter akademik di tengah kemajuan teknologi.
Pandangan Resmi Dunia Pendidikan tentang AI
Sobat Siber, penting untuk dipahami bahwa dunia pendidikan tidak bersikap menutup diri terhadap AI. Pemerintah melalui Kemdiktisaintek justru menyadari bahwa AI adalah bagian dari realitas pembelajaran masa kini dan masa depan. Karena itu, yang dilakukan bukanlah pelarangan total, melainkan penyusunan panduan penggunaan yang bertanggung jawab.

sumber: kemdiktisaintek.go.id
Dalam Buku Panduan Penggunaan Generative AI pada Pembelajaran di Perguruan Tinggi (2024), AI diposisikan sebagai alat bantu pembelajaran. Artinya, AI diakui memiliki potensi besar untuk mendukung proses belajar, meningkatkan efisiensi, dan membantu mahasiswa memahami materi yang kompleks. Namun, potensi tersebut harus berjalan seiring dengan nilai-nilai akademik yang sudah lama dijaga.
Panduan ini menekankan bahwa AI tidak boleh menggantikan peran manusia dalam berpikir, menganalisis, dan mengambil keputusan akademik. Proses intelektual tetap menjadi inti pembelajaran. AI hanya membantu di sisi teknis dan pendukung, bukan mengambil alih kendali utama.
Pendekatan ini menunjukkan sikap yang seimbang. Dunia pendidikan tidak anti-teknologi, tetapi juga tidak membiarkan teknologi berjalan tanpa arah. Dengan kata lain, AI boleh digunakan, selama penggunaannya memperkuat proses belajar, bukan memotongnya.
Bagi mahasiswa, panduan ini menjadi pegangan agar tidak salah langkah. Bagi orang tua dan siswa, panduan ini memberi kepastian bahwa penggunaan AI dalam pendidikan tetap berada dalam koridor etika dan tanggung jawab.
Memahami Batasan Penggunaan AI
Sobat Siber, kunci dari penggunaan AI dalam karya ilmiah bukan terletak pada boleh atau tidaknya, melainkan pada bagaimana AI digunakan. Di sinilah batasan menjadi sangat penting. Tanpa batasan yang jelas, AI yang awalnya membantu justru bisa mengaburkan peran.
Dalam praktik yang sehat, AI dapat digunakan untuk membantu memahami konsep yang terasa rumit. Ketika menemui istilah teknis atau teori yang sulit dipahami, AI bisa menjadi “teman diskusi awal” yang membantu membuka pemahaman. AI juga dapat dimanfaatkan untuk menyusun kerangka tulisan, agar ide-ide utama tersusun rapi sebelum dikembangkan lebih lanjut oleh mahasiswa.
Selain itu, AI sering digunakan untuk merapikan tata bahasa, ejaan, dan alur kalimat. Bagi banyak mahasiswa, bagian ini terasa menantang, terutama saat menulis dalam bahasa akademik. Selama substansi tulisan tetap berasal dari pemikiran penulis, penggunaan AI pada tahap ini masih berada dalam batas yang wajar.
Namun, batasan ini menjadi jelas ketika AI mulai menggantikan peran utama penulis. Jika seluruh isi skripsi dihasilkan oleh AI, termasuk analisis, pembahasan, dan kesimpulan, maka proses belajar telah terlewatkan. Mahasiswa tidak lagi berlatih berpikir kritis, melainkan hanya menyunting hasil kerja mesin. Dalam konteks akademik, ini bukan sekadar soal aturan, tetapi soal kehilangan kesempatan belajar yang sangat berharga.
Kenapa Etika Tetap Jadi Kunci?
Sobat Siber, etika akademik sering kali terdengar sebagai istilah formal, tetapi sebenarnya ia hadir untuk melindungi makna pendidikan itu sendiri. Etika memastikan bahwa proses belajar berjalan dengan jujur, adil, dan bertanggung jawab, termasuk ketika teknologi canggih seperti AI mulai digunakan.
Tanpa etika, AI bisa dengan mudah berubah dari alat bantu menjadi jalan pintas. Tulisan terlihat rapi, struktur tampak meyakinkan, tetapi penulisnya tidak benar-benar memahami apa yang ditulis. Dalam jangka panjang, kondisi ini justru merugikan mahasiswa karena kemampuan berpikir, menganalisis, dan menulis tidak berkembang.
Panduan Kemdiktisaintek menegaskan bahwa transparansi dan tanggung jawab adalah bagian penting dari penggunaan AI. Mahasiswa perlu menyadari kapan AI digunakan dan untuk tujuan apa. Kesadaran ini membantu menjaga kejujuran akademik sekaligus membangun kebiasaan belajar yang sehat.
Lebih dari itu, etika juga berperan dalam membentuk karakter. Dunia kerja dan kehidupan profesional menuntut integritas, bukan sekadar hasil cepat. Dengan menjaga etika sejak di bangku pendidikan, mahasiswa dipersiapkan menjadi individu yang tidak hanya cakap teknologi, tetapi juga bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi tersebut.
Penutup: AI sebagai Alat, Bukan Jalan Pintas
Sobat Siber, menjawab pertanyaan “Skripsi pakai AI, boleh nggak, sih?” jawabannya bukan sekadar ya atau tidak. AI boleh digunakan sepanjang ia membantu proses belajar, bukan menggantikannya. Yang tidak boleh adalah menyerahkan seluruh proses berpikir kepada mesin dan mengabaikan nilai kejujuran akademik.
Di era digital, kecakapan menggunakan AI adalah kebutuhan. Namun, kecakapan itu harus berjalan seiring dengan etika, tanggung jawab, dan literasi digital yang baik. Politeknik Siber dan Sandi Negara mendorong pemanfaatan teknologi secara bijak agar generasi muda tidak hanya menjadi pengguna AI, tetapi juga menjadi insan akademik yang kritis, berintegritas, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Karena pada akhirnya, teknologi yang hebat akan kehilangan maknanya tanpa manusia yang bertanggung jawab di belakangnya.
Referensi
- Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi – Kemdiktisaintek.
Buku Panduan Penggunaan Generative AI pada Pembelajaran di Perguruan Tinggi. Diakses pada 02 Januari 2026.




