1001 Jalan Menuju Poltek SSN (3)

“Usaha Tidak Pernah Mengkhianati Hasil”

Halo Sobat  Poltek SSN

Poltek SSN mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa bagi sobat yang beragama Islam. Tulisan kali ini mengangkat tentang perjuangan Fela Nadya yang pantang putus asa meskipun harus tiga kali mencoba untuk menjadi Taruna Poltek SSN. Check it Out !

Fela Nadya – The Success Story

Namaku Fela Nadya. Taruna Tingkat III Program Studi Rekayasa Kemanan Siber. Kutuliskan sepenggal kisah perjuanganku masuk Politeknik Siber dan Sandi Negara (Poltek SSN), untuk kalian yang sedang berjuang meniti masa depan yang terang benderang.

Sandi, jika itu muncul sekitar lima tahun yang lalu, aku akan berasumsi bahwa itu adalah kode yang sering digunakan dalam kegiatan pramuka. Lima tahun yang lalu aku benar benar tidak tahu menahu apa itu sandi atau persandian, apalagi Sandi Negara. Barulah menjelang akhir kelas 12 SMA, Ibuku memperkenalkan Sekolah Tinggi Sandi Negara atau STSN berdasarkan informasi yang ibu dapatkan di internet (sekarang Politeknik Siber dan Sandi Negara atau Poltek SSN). Ibuku memang hanya ibu rumah tangga namun untungnya ibuku cukup melek teknologi. Sebenarnya tidak hanya info mengenai STSN  saja namun banyak jurusan dan universitas lain yang ibu tawarkan. Aku tertarik dengan STSN, karena selain tidak ada aturan tinggi badan (tinggi badanku 152cm) aku juga penasaran apa sebenarnya sandi dan ilmu yang dipelajari. Melihat ketertarikanku pada STSN ayahku yang seorang prajurit TNI-AD akhirnya juga mulai mencari tahu informasi mengenai STSN dari rekan kerjanya yang berada di Bagian Sandi Korem Salatiga. Saat itulah aku mulai sedikit tau bahwa sandi tidak hanya sebatas kode di pramuka saja bahkan sandi juga terbentuk dalam satu bidang ilmu yang disebut kriptologi atau kriptografi.

Aku bersama orang tuaku

Pendaftaran Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) STSN tahun 2016 aku ikuti di Bogor karena saat itu belum ada Lokasi ujian di daerah. Perjuangan itu aku lakukan dengan bolak-balik Bogor- Ambarawa selama 4 bulan (April-Juni 2016) mengikuti seluruh tahap seleksi dengan semangat. Lelah memang tapi di satu bulan tekahir aku mulai gencar menginginkan masuk STSN karena gagal SNPTN dan SBMPTN di jurusan Penataan Wilayah Kota di Universitas yang aku inginkan. Ayah dan ibuku tidak selalu bisa mendampingi dalam proses seleksi namun doa selalu mengiringi, tak jarang aku lebih sering berangkat seorang diri menuju Bogor. Pada akhirnya aku harus gagal di tahap kesehatan dan kebugaran yang aku juga kurang tahu apa penyebabnya. Mungkin memang belum rejeki aku saat itu.

suasana tes SPMB

Setelah gagal di percobaan pertama orang tuaku tetap memintaku untuk tetap berkuliah dimana pun itu. Walau saat itu aku tidak mau akhirnya aku memilih untuk berkuliah di universitas di sekitar rumahku. Hal tersebut disarankan orang tuaku agar aku tetap bisa produktif, tidak larut dalam kesedihan dan untuk menjaga psikologiku agar tidak minder ketika melihat teman- temanku berkuliah dan mempunyai teman baru. Selain itu juga mempersiapkan aku untuk selalu memiliki berbagai planning untuk masa depan. Tidak bisa planning A maka kita masih bisa jalankan planning B sehingga tidak akan ada masa dimana kita larut dalam kekecewaan dan kegagalan. Karena itu aku mulai mengatur rencana jikalau aku tidak bisa lulus lagi di percobaan kedua apa yang akan aku lakukan. Akhirnya dari itu aku mulai mensyukuri apa yang aku dapat. Allah, Tuhan Yang Maha Esa itu tahu apa yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan. Disinilah proses pendewasaan diriku dimulai. Berpositif thingking masih ada kesempatan. Aku mendaftarkan diri kembali dalam SPMB STSN ditahun 2017 di Yogyakarta.

Daerah Istimewa Yogyakarta

Namun di tahun ini berbeda support system keluarga saya lebih kuat lagi. Orang tuaku dan adik perempuanku yang terpaut enam tahun dariku lebih sering menemaniku ketika seleksi dibanding sebelumnya. Hal itu semakin membuat aku tidak ingin mengecewakan mereka. Hingga aku sampai pada tahap Penilaian Pemantauan Terakhir (Pantukhir), dan gagal. Saat itu rasa kecewaku lebih dalam lagi. Gagal untuk yang kedua kalinya. Namun ternyata keluargaku di tahun tersebut lebih bisa menenangkanku.

Kegagalan tersebut merupakan plan A bagiku. Aku mulai bisa menata apa yang aku inginkan ditahun kedua ini. Plan B ku adalah aku tetap melanjutkan berkuliah dan mencari pengalaman kerja mulai dari bangku kuliah. Karena aku kuliah di pendidikan maka aku mulai mencari pengalaman kerja di bidang pendidikan seperti mengajar. Pagi hari setiap harinya aku menjadi pengajar TK. Siang hingga sore hari aku berkuliah. Sore hingga malam hari aku kembali bekerja lagi menjadi desainer grafis di salah satu klinik kecantikan di daerahku, Salatiga. Hari-hari yang sangat melelahkan memang namun dari sini aku bertemu banyak orang yang lebih berpengalaman. Seperti teman- teman kerja yang jauh lebih tua dari pada aku, banyak nasehat yang aku dapat ketika menjadi pengajar dan karyawan. Intinya setiap orang memiliki starting point-nya masing-masing, punya rejekinya masing-masing, tidak boleh iri dengan rejeki orang lain karena itu bisa membuatmu tidak bersyukur. Iri itu boleh asalkan iri lah dengan ketekunan orang bukan apa yang telah didapatkan orang lain agar kita lebih terpacu untuk terus berusaha dan tidak menyerah.

Aku bersama murid murid TK ku

Seleksi tahun ketiga dimulai. Sebenarnya aku sudah tidak ingin mendaftar lagi karena sudah nyaman dengan apa yang aku jalani saat itu. Tapi aku berpikir bahwa mungkin tahun ketiga adalah starting point-ku. Karena tidak enak hati jika masih merepotkan orang tua, ditahun ketiga aku lakukan semua sendiri mulai berangkat ke Jogja untuk seleksi hingga biaya yang dikeluarkan. Tahun ketiga yang aku kira akan lebih mudah ternyata jauh lebih berat karena aku sudah terbebani untuk mengatur tanggung jawab antara mengajar, kuliah dan juga bekerja. Tidak ada waktu bagiku belajar saat itu. Saat jeda tes seleksi pun aku masih mengerjakan pekerjaanku sebagai desainer grafis dan bolak-balik Jogja-Salatiga-Ambarawa setiap hari. Lelah amat sangat memang, dari lelah itu aku sangat legowo dan pasrah jika nantinya aku gagal, karena memang merasa kurang persiapan. Hasil yang tak disangka-sangka aku akhirnya dinyatakan lulus seleksi dan harus segera ke Bogor. Ternyata memang benar bahwa usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Apa yang aku impikan akhirnya terwujud berkat kerja keras, pantang putus asa dan tentu saja, doa. Akhirnya setelah tiga kali mencoba, Allah, Tuhan yang Maha Esa wujudkan cita-citaku masuk Poltek SSN.

Alhamdulillah, setelah tiga kali mencoba dan berbuah manis.

Aku kira ini kelulusan yang akan sangat menggembirakan namun ternyata hal sedih juga aku dapatkan karena harus berpisah dengan teman- temanku di tempat kuliah, kerja, anak- anak didik dan bahkan orang tuaku. Memang ada hal yang harus dikorbankan untuk hal yang kita inginkan. Ditahun ketiga inilah starting point-ku. Banyak usaha dan doa hingga aku bisa sampai dititik ini.

Bertemu dengan teman baru lingkungan baru dan belajar hal baru. Banyak orang- orang cerdas yang aku temui di sini. Membuat aku harus beradaptasi dengan cepat. Ketekunan dan doa adalah kunci untukku  dapat bertahan hingga tahun ke tiga di Poltek SSN.

Buat kalian yang sedang berjuang, teruslah berjuang. Sampai bertemu di Poltek SSN. Kampus impian buat para pejuang masa depan yang terang benderang.  

Salam Perjuangan,

Fela Nadya.

Pos Terkait